31 Maret 2008
Industri Hilir Baja Terancam Tutup

NERACA Jakarta-Sebanyak 16 dari 17 perusahaan industri baja lapis seng (bjls) terancam tutup akibat naiknya biaya produksi menyusul kenaikan harga baja dan rendahnya daya saing dengan produk sejenis dari impor.

Sementara, kebijakan pemerintah dalam mengatasi crisis pasokan dan harga baja yang terus meningkat masih tidak jelas.

"Arah kebijakan pemerintah untuk mengatasi kenaikan harga baja dunia tidak tegas dan jelas," kala Ketua Asosiasi Industri Pengecoran Logam Indonesia (APLINDO) A Safiun di Jakarta, pekan lalu.

Menurut dia, seharusnya pemerintah mengutamakan kebijakan yang mendukung pengembangan industri hilir baja, karena produk hilir yang langsung dipakai masyarakat, seperti Produk baja untuk konstruksi sampai untuk peralatan rumah tangga.

"Pemerintah seharusnya menurunkan tarif bea masuk (bm)  (baja lembaran panas/HRC dan baja lembaran dingin/CRC) agar industri hilir pengguna baja bisa berkembang," ujarnya. Apalagi, lanjut Safiun, kemampuan produksi produsen HRC dan CRC nasional belum mampu memenuhi semua kebutuhan domestik. "Pemerintah jangan hanya membela KS (Krakatau Steel). Kemampuan produksi baja kita belum mampu memenuhi semua kebutuhan domestik," katanya Hal senada dikemukakan Ketua Gapsi Agus Salim yang anggotanya terancam bangkrut karena minimnya perbedaan bea masuk (SM) bahan baku yaitu CRC (BMnya 10 persen) dengan produk jadi baja lapis seng (bjls) yang BM-nya 12,5 persen. "Kami mengharapkan pemerintah membebaskan BM CRC agar industri bjls bisa bersaing dengan produk impor dan konsumen bisa mendapatkan harga seng lebih murah," katanya.

Menurutnya, saat ini ada satu perusahaan yang sudah benar-benar tutup dan mesin mesinnya sudah tidak ada lagi. Selain itu, ada tiga perusahaan lagi yang berhenti operasi. Namun perusahaan tersebut masih memiliki stok. Sedangkan sebagian besar industri bjls lainnya juga terpuruk.

"Hanya satu yaitu BlueScope yang masih berjalan dengan baik karena produknya Galvalum yang menggunakan alumunium dan harganya stabil pada kisaran 2.700 dolar AS per ton,"katanya.

Sedangkan harga seng sebagai salah satu bahan baku bjls terus meningkat dari 700 dolar AS per ton, bahkan pernah menyentuh angka 4.000 dolar AS per ton, meskipun kini harganya berkisar 2.300- 3.000 dolar AS per ton.
Secara total, total kegiatan produksi industri bjls nasional sudah berkurang sekitar 5O persen.

Sementara itu, Dirjen ILMTA Anshari Bukhari menilai penghapusan BM bukan jalan keluar terbaik untuk mengatasi kenaikan harga baja dunia yang berimbas pada naiknya harga baja di dalam negeri.

"Pembebasan BM justru menimbulkan masalah baru seperti adanya verifikasi. Selain itu BM baja sebenarnya sudah rendah, sehingga sebenarnya sudah mengarah ke tarif yang harmonisasi katanya.

Anshari juga menegaskan pemerintah tidak bisa membuat kebijakan yang berpihak pada kelompok industri tertentu, karena harus memperhitungkan dampaknya pada kelompok lain.

Saat ini produksi baja dan produk baja nasional diperkirakan sekitar lima juft ton per tahun, sedangkan konsumsi domestik mencapai 6-7 juta ton. mu.

Sumber : Harian Ekonomi Neraca, Page : 8

 

 Dilihat : 3851 kali