31 Maret 2008
Pemerintah Lanjutkan Dua Program Privatisasi

JAKARTA (Ml) Pemerintah menetapkan proses privatisasi terhadap sejumlah BUMN akan tetap berlanjut. Meski demikian, setoran privatisasi terhadap APBN tel ali diturunkan menjadi hanya Rp500 miliar.

"Yang akan disetor ke negara untuk menutupi defisit APBN hanya Rp500 miliar dan itu akan dipenuhi. Selebihnya dana hasil privatisasi akan masuk sepenuhnya ke perusahaan untuk memperbaiki kinerjanya," ungkap Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil saat ditemui di ruang kerjanya di Jakarta, akhir pekan lalu.

Sofyan mengingatkan tujuan program privatisasi bukan hanya menutup defisit anggaran di APBN. Pemerintah juga berkomitmen memperkuat struktur permodalan dan merestrukturisasi BUMN. Salah satunya dengan melaksanakan privatisasi.
Diharapkan, jelas Sofyan, dengan privatisasi, BUMN bisa menambah modal usaha untuk perbaikan atau penambahan investasi.

Tahun ini perusahaan yang masuk daftar prioritas ialah BUMN perkebunan, yakni PT Perkebunan Nusantara (PN) III, IV, dan VIL Selain ketiga perusahaan, pelaksanaan privatisasi yang masih tertunda akan tetap dilanjutkan. "Semua itu untuk merestrukturisasi BUMN dan kita akan tetap jalankan," kata Sofyan.

Selain privatisasi BUMN prioritas, Sofyan menambahkan, tahun ini pemerintah mendorong proses privatisasi PT Krakatau Steel.

Proses itu akan dilaksanak, melalui penawaran umum perdana (initial public offer/IPO) saham. Meski opsi yang dimiliki ialah penjualan strategis (strategic sale) dan IPO. direksi KS lebih memilih penawaran umum perdana.

Kendati begitu. Sofyan mengingatkan meski pemerintah akan mendorong KS untuk segera privatisasi, pelaksanaannya tetap menunggu kondisi pasar.

Menurut Sofyan, kondisi itu pula yang menyebabkan pemerintah mereduksi target perolehan negara dari privatisasi. Bila sebelumnya jumlah setoran privatisasi BUMN Rpl,5 triliun, diturunkan menjadi hanya Rp500 miliar.

"Kondisi pasar saat ini tidak bisa diprediksikan sehingga kemudian dican angka minimum setoran privatisasi yang paling aman, yaitu Rp500 miliar," ka nya (Toh/E-2)

Sumber : Media Indonesia, Page : 17 

 

 Dilihat : 3292 kali