31 Maret 2008
Produsen Seng Kurangi Produksi-Seng Ukuran 0,30 Dijual Rp 55.000/Lembar

Warta Kota KENAIKAN harga baja di pasar dunia berdampak negatif terhadap berbagai produk turunan baja. Salah satu sektor industri yang sangat terpukul yaitu produsen seng terpaksa mengurangi produksinya.

Demikian benang merah dari diskusi bertema "Dampak Kenalkan Harga Baja Dunia Terhadap Industri Nasional" di Gedung Departemen Perindustrian, Jakarta Selatan, Jumat (28/31.

Menurut Agus Salim. Ketua Gabungan Pabrik Seng Indonesia (Gapsi), saat Ini kondisi pabrik seng kian memprihatinkan. "Karena nambahan baku baja yang naik tinggi, kami sebagai produsen seng terpaksa mengurangi kapasitas produksi agar tidak rugi besar," ungkapnya.

Kala Agus, kenaikan harga bahan baku baja memicu kenaikan harga seng (baja lembar lapis seng/BJLS) di pasar dunia, yakni dart 700 dolar AS/ton menjadi 4.000 dolar AS/ton. Kenaikan harga seng itu melampaui harga aluminium yang tadinya lebih mahal, yaitu 2.800 dolar AS/ton.

Akibatnya, harga seng di pasar dalam negeri Juga terkerek naik dari Rp 22.000/lembar menjadi Rp 39.000/lembar. "Seharusnya harga seng Rp 45.000 per lembar dan bulan April naik lagi menjadi Rp 48.000 per lembar. Karena daya bell masyarakat sangat lemah, maka produsen menekan laju kenaikan harga." ujar Agus.

Selain itu. lanjut Agus, dari 17 perusahaan anggota Gapsi terpaksa mengurangi produksinya hingga 50 persen. Bahkan ada satu perusahaan yang sudah bangkrut dan tiga perusahaan lainnya beralih menjadi pedagang atau importir seng.

Berdasarkan data Departemen Perindustrian, kapasitas produksi seng nasional mencapai 1 juta /Ton/ tahun. Namun, pada 2007 hanya memprodukst 329.000 ton. Sementara konsumsi seng nasiona mancapai 500.000 Ton/ tahun, sehinga kekurangannya harus diimpor "Sekarang ini ada kecenderungan masyarakat kembali menggunakan asbes, meski untuk kesehatan tidak baik. Sebab harga asbes jauh lebih murah.ujar Agus.

Paku Rp 12.000/kg

Sementara Itu. Sian Tat dari toko besi Jaya Baru di Rawabelong. Jakarta Barat mengatakan, dalam beberapa bulan ini harga bahan material bangunan yang mengandung baja naik cukup tajam meski secara bertahap. Misalnya seng ukuran 0,20. dari Rp 22.000/lembar menjadi Rp 37.500/lembar. atau ukuran 0,30 dari Rp 32.500/lembar menjadi Rp 55.000/tembar. Begitu pula paku ukuran 5 cm-12 cm dari Rp 6.000/kg menjadi Rp 12.000/kg.

Namun, kata Sian Tat pasokan seng ke pasar relatif normal. "Jika pesan langsung diantar. Barang tidak kekurangan, yang kurang pembelinya karena harga seng mahal." katanya.

Sementara itu menurut Dlrien Industri Logam, Mesin. Tekstil, dan Aneka (ILMTA) Departemen Perindustrian. Ansari Bukhari, kenaikan harga berbagai komoditas di pasar dunia memang sulit dihindari. Apalagi produsen nasional masih tergantung pada bahan baku Impor.

Karena Itu. Ansori mengusulkan agar ada investasi baru di bidang bijih besi. Karena bijih besi adalah bahan baku utama dalam membuat baja berikut turunannya. "Krakatau Steel (KS) memang sedang dalam proses untuk memproduksi. Tapi itu butuh waktu. Jadi jika itu selesai, produsen nasional bisa membeli pada KS, tak perlu mengimpor lagi." ucapnya, [veil ]

Sumber : Warta Kota

 

 Dilihat : 3627 kali