29 Maret 2008
Impor baja ilegal rugikan negara US$1 miliar

JAKARTA: Departemen Perindustrian memperkirakan aktivitas impor baja ilegal sepanjang empat tahun terakhir telah merugikan negara US$1 miliar atau setara dengan Rp9,2 triliun. Nilai tersebut membengkak US$200 juta dibandingkan dengan 2007.

Sumber Bisnis di Depperin mengungkapkan potensi kerugian tersebut dihitung berdasarkan penggunaan nomor HS (harmonized system) yang tidak sesuai dengan jenis barang yang diimpor (underinvoice) dan berbagai modus praktik penyelundupan lain.

"Sekitar 1,1 juta di antaranya kami perkirakan adalah ilegal. Beberapa subsektor yang menjadi primadona importir ilegal itu seperti baja canai panas (HRC/hot rolled coil), CRC, kawat baja [wirerod], pipa, hingga seng baja," kata sumber itu, kemarin.

Dari total demand baja di dalam negeri sekitar 6 juta ton pada tahun lalu, katanya, produsen baja nasional hanya mampu memproduksi sekitar 4 juta ton (termasuk produksi PT Krakatau Steel/KS sekitar 2,5 juta ton), sementara impor mencapai 2 juta ton.

Kehilangan negara dari pajak akan bertambah besar seiring dengan terjadinya lonjakan harga baja dunia yang kini telah menembus US$1,000 per ton, karena BM yang seharusnya dibayarkan ke kas negara bertambah besar.

Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka Depperin Ansari Bukhari mengakui impor ilegal baja masih terus berlangsung. "Impor ilegal masih marak melalui underinvoice, yang seharusnya membayar pajak 10% tapi dengan pelarian No. HS dibayarkan 5%," kata Ansari, seusai Diskusi Industri Baja Nasional di tengah Lonjakan Harga Baja Dunia, kemarin.

Ketua Gabungan Pabrik Seng Indonesia (Gapsi) Agus Salim menjelaskan sebagian produsen seng ikut terlibat dalam melakukan praktik underinvoice dengan tidak membayar BM baja canai dingin (cold rolled coils/CRC) ukuran 0,2 mm yang resmi berlaku 10% dan BM seng baja sebesar 12,5%.

"Mereka memalsukan dokumen dan masuk melalui pelabuhan-pelabuhan kecil. Belum lagi impor ilegal fished product [seng baja]. Ini sangat berat bagi industri seng yang memproduksi sesuai dengan aturan di tengah lonjakan harga yang akan terus berlanjut hingga akhir 2008," kata Agus.

Hapus BM Untuk menghindari iklim usaha yang memburuk di industri seng baja, katanya, Gapsi mendesak pemerintah segera menurunkan tarif BM baja canai dingin ukuran 0,2 mm (bahan baku seng baja) sebesar 5%. Saat ini, BM baja canai dingin ditetapkan 10%. Pada saat yang sama, pemerintah diminta menekan impor seng baja nonstandar.

Harga produk seng baja lokal ukuran 0,2 mm x 3 x 6 feet saat ini menembus Rp39.000 per lembar. Pada Mei, ujarnya, harga seng diperkirakan akan menembus Rp43.000 per lembar di pasar ritel.

Produsen tidak bisa menaikkan harga jual mengingat daya beli konsumen yang menurun, sehingga produsen memangkas margin dengan mempertahankan harga di kisaran Rp34.000 per lembar.

 

 Dilihat : 3802 kali