31 Maret 2008
16 Industri BjLS Terancam

JAKARTA (SINDO)Sebanyak 16 dari 17 perusahaan industri baja lapis seng (BjLS) terancam tutup akibat membengkaknya biaya produksi menyusul kenaikan harga baja.

"Saat ini ada satu perusahaan sudah benar-benar tutup, mesin mesinnya sudah tidak ada lagi," kata Ketua Gabungan Pabrik Seng Indonesia (Gapsi) Agus Salim dalam diskusi bertajuk dampak lonjakan harga baja dunia terhadap industri nasional di Jakarta kemarin.

Selain itu, kata dia, ada tiga perusahaan lain yang sudah berhenti beroperasi, tapi masih memiliki stok. Sebagian besar industri BjLS lain juga sudah terpuruk. "Hanya satu, yaitu BlueScope, yang masih berjalan dengan baik karena produknya, Galvalum, menggunakan alumunium dan harganya stabil pada kisaran USD2.700 per ton," katanya. Saat ini, menurutnya, harga seng sebagai salah satu bahan baku BjLS terus meningkat dari USD700 per ton hingga menyentuh angka USD2.30O-3.000 per ton.

"Sebagian pabrik BjLS lokal berencana memangkas produksinya pada Mei 2008, diawali dengan penurunan produksi secara drastis hingga di atas 50% untuk Maret dan April ini," kata dia.

Sementara itu, Dirjen Industri Logam, Mesin, Tekstil, dan Aneka (ILMTA) Departemen Perindustrian (Depperin) Anshari Bukhari mengatakan, tanpa masalah kenaikan harga tersebut, industri BjLS nasional pun sudah kesulitan. Hal itu, kata dia, tampak dari pemanfaatan kapasitas produksi industri BjLS nasional yang saat ini sangat rendah, hanya sekitar 30%.

"Saat ini produksi BjLS hanya sekitar 329.000 ton per tahun dari kapasitas terpasang 1,2 juta ton per tahun. Sementara konsumsi mencapai 400.000-500.000 ton per tahun sehingga ada impor mencapai 184.000 ton," katanya.

Terkait dengan itu, Agus meminta pemerintah membebaskan bea masuk (BM) baja canai dingin {cold rolled coilslCRC) yang menjadi bahan baku BjLS dari 10% menjadi 5%. Di lain sisi, kata dia, BM BjLS saat ini hanya 12,5%. Dengan beda yang tipis tersebut, kata dia, produsen BjLS lokal sulit bersaing dengan produk impor. Penurunan BM CRC diharapkan dapat mengatasi tekanan lonjakan harga bahan baku sehingga industri nasional dapat lebih bersaing.Namun,Dirjen ILMTA Ansari Bukhari menolak usulan tersebut.Angka bea masuk tersebut menurut dia sudah yang terendah. "Jadi tidak bisa diturunkan lagi," kata Ansari.

Ansari menambahkan, kenaikan harga ini bukan hanya masalah di dalam negeri, tapi juga menjadi masalah global. Pemerintah, imbuh dia, juga tidak dapat mengambil suatu kebijakan terhadap kelompok tertentu, tetapi dapat merugikan kelompok lain sehingga dapat menimbulkan masalah baru.

Alutsista Terkait dengan kenaikan harga baja dunia yang diprediksi terus berlangsung hingga 2009, Ketua Umum Gabungan Asosiasi Pengerjaan Mesin dan Logam (Gamma) Ahmad Safiun mengatakan bahwa hal itu dipastikan akan menyebabkan pembengkakan anggaran Departemen Pertahanan (Dephan) untuk keperluan alat utama sistem senjata (alutsista).

"Hampir sebagian besar alutsista yang diproduksi membutuhkan baja yang bahan bakunya berasal dari bijih besi. Sementara harga bijih besi terus menjulang di pasar dunia dari posisi awal USD113 per ton pada awal 2008 menjadi USD229 per ton saat ini," tuturnya.

Saat ini, kebutuhan baja dalam negeri mencapai 6 juta ton per tahun. Dari jumlah itu, 4 juta ton dipenuhi oleh produksi nasional, 2,5 juta di antaranya dipasok PT Krakatau Steel. Sebanyak 2 juta ton lagi masih harus diimpor.
(agung kurniawan)

Sumber : Harian Seputar Indonesia, Page : 19 

 

 Dilihat : 2602 kali