29 Maret 2008
Baja Ilegal Gerogoti Pasar Domestik Rp 9,2 Triliun

JAKARTA Departemen Perindustrian (Depperin) memperkirakan impor baja ilegal sepanjang empat tahun terakhir telah menggerogoti pasar domestik senilai US$ 1 miliar atau setara dengan Rp 9,2 triliun.Kondisi itu mengancam kebangkrutan industri baja nasional.

Di sektor baja lapis seng (BjLS), 17 pabrik telah memangkas produksi hingga 70% karena harga bahan baku sudah setara dengan harga jual produk tersebut. Bahkan, satu pabrik BjLS telah menutup usahanya untuk sementara karena lonjakan harga bahan baku hingga 100%.

Dirjen Industri Logam, Mesin, Tekstil, dan Aneka Depperin Ansari Bukhari mengakui, impor ilegal baja masih terus berlangsung. "Impor ilegal masih marak melalui praktik under invoice, yang seharusnya membayar pajak 10% tapi dengan pelarian nomor HS (harmonized system) dibayarkan 5%," kata Ansari dalam diskusi bertajuk Industri Baja Nasional di tengah Lonjakan Harga Baja Dunia, di Jakarta, Jumat (28/3).

Sumber Investor Daily di jajaran pejabat Depperin menambahkan, potensi kerugian negara dari berbagai praktik penyelundupan baja itu diperkirakan mencapai US$ 1 miliar selama empat tahun terakhir. Perkiraan jumlah tersebut dihitung berdasarkan penggunaan nomor HS yang tidak sesuai dengan jenis barang yang diimpor (underinvoice) dan berbagai modus praktik penyelundupan lainnya.

"Sekitar 1,1 juta ton dari total impor baja Indonesia selama empat tahun terakhir, yang mencapai 8 juta ton, kami perkirakan ilegal. Beberapa produk baja yang banyak diimpor secara ilegal itu antara lain baja canai panas (hot rolled coils HRC), baja canai dingin (cold rolled coil/CRC), kawat baja (wirerod), pipa, hingga seng baja," katanya.Dia menjelaskan, total konsumsi baja dalam negeri mencapai 6 juta ton pada tahun lalu. Sementara itu, produsen baja nasional hanya mampu memproduksi sekitar empat juta ton (termasuk produksi PT Krakatau Steel sekitar 2,5 juta ton). Sementara itu, impor baja nasional per tahun sekitar 2 juta ton.

Menurut dia, kerugian negara dari penerimaan pajak bea masuk (BM) akan semakin meningkat seiring dengan lonjakan harga baja dunia yang kini telah menembus US$ 1.000 per ton. Terancam Bangkrut Makin derasnya gelombang impor produk baja secara ilegal telah mengancam keberlanjutan usaha industri baja lapis seng (BjLS) nasional. Ketua Gabungan Pabrik Seng Indonesia (Gapsi) Agus Salim menjelaskan, seluruh pabrik BjLS di dalam negeri telah menurunkan kapasitas produksi hingga 70%. Bahkan, satu pabrik BjLS mulai menutup pabriknya sejak awal tahun ini. "Pabrik yang kolaps itu berinisial IBD," paparnya.

Menurut catatan Investor Daily, pabrik BjLS yang berinisial IBD itu adalah PT Industri Baja Garuda. Produksi terakhir perusahaan tersebut pada akhir tahun lalu mencapai 15.577 ton dari total kapasitas 124.000 ton.

Agus Salim menjelaskan, keterpurukan industri BjLS nasional saat ini akan semakin parah dengan lonjakan harga baja dunia yang telah menembus di atas US$1,000 per ton. "Saat ini harga bahan baku BjLS sama dengan produk akhirnya. Atau ada istilah jual sapi dapat ayam. Kalau begini terus, para produsen akan menjadi pedagang," ucapnya.

Karena itu, Gapsi mendesak pemerintan segera menurunkan tarif BM baja canai dingin ukuran 0,2 mm (bahan baku BjLS) sebesar 5%. Saat ini, BM baja canai dingin ditetapkan sebesar 10%. Pada saat yang sama, pemerintah diminta menekan impor seng baja nonstandar.(dry)

Sumber ;  Investor Daily Indonesia, Page : 13 

 

 Dilihat : 2609 kali