12 September 2007
Menuju 10 Besar Dunia

Sebagai perusahaan baja terbesar di Asia Tenggara, Krakatau Steel bertekad menjadi pemain terkemuka tahun 2020 dan masuk dalam 10 perusahaan terkemuka di dunia. Apa saja strategi perseroan ?
Direktur Utama PT Krakatau Steel (PT KS), Ir. Daenulhay, MM, memiliki mimpi indah tentang masa depan perusahaannya. "Kami punya visi. Tahun 2008 PT KS menjadi penyedia baja dunia biaya kompetitif. Tahun 2013 tampil sebagai pemain baja terpadu dunia yang dominan dan pada tahun 2020 menjadi pemain dunia terkemuka," tandasnya dengan mata menerawang.

Daenulhay memang bukan sekedar bermimpi. Sebab Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berlokasi di Cilegon ini merupakan satu-satunya industri baja terpadu di Indonesia dan terbesar di Asia Tenggara. Atas dasar itulah, apabila manajemen dibawah kepemimpinan putra Banten ini, terus mencanangkan program-program yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja dan mewujudkan visi menjadi perusahaan baja kelas dunia di tahun 2020.

Efisiensi baginya adalah harga mati yang didukung dengan produktivitas, konsistensi dan profitisasi dalam menerapkan strategi pemasaran. Kalau semua dijalankan maka ada peningkatan volume penjualan dan laba perusahaan. Tahun 2006 memang sedikit mengganggu kinerja PT KS. Turunnya harga baja di pasar internasional, permasalahan pasokan gas, aturan tarif yang tidak harmonis, dan penegakan hukum yang kurang jelas, rupanya berdampak besar terhadap kinerja PT KS. Namun, di tengah tantangan yang demikian peliknya, itu, perusahaan yang didirikan 31 Agustus 1970, ini, tetap mampu memenuhi kebutuhan baja dalam negeri dan meningkatkan kemampuan bersaing di pasar internasional.

Hemat Dalam Ongkos

Menurut peraih doctor dari Universitas Padjadjaran Bandung tersebut, saat ini ada ada 3 faktor yang mempengaruhi persaingan bisnis. Yakni teknologi, pasar terbuka dan privatisasi yang terus dihadapi. "Kami bertekad untuk menjadikan KS sebagai perusahaan baja yang kompetitif, dengan indikator produknya dapat dibeli oleh konsumen sebagai pengaruh efisiensi biaya produksi," tekadnya.

Industri baja di abad 21 ini sangat luar biasa pertumbuhannya. Hal tersebut dipacu oleh industri baja di Cina, yang sudah menguasai sepertiga baja dunia.

China di mata ayah 3 anak kelahiran Serang 23 Agustus 1952 ini adalah sebuah negara yang sukses mengembangkan industri bajanya.

Dijelaskannya, 2003-2004 adalah tahun ramainya China membangun industri baja dalam rangka menghadapi olimpiade tahun 2008. Pada saat itu China hanya mempunyai kapasitas 240-an juta ton. Tapi dalam waktu 2 tahun, kapasitas produksinya sudah meningkat menjadi 280 juta ton. Bahkan tahun 2007, negara Tirai Bambu itu produksinya sudah mencapai 450 juta ton. Masa depan China, sepengamatan Daenulhay, bisa menjadi pelopor atau pengendali industri baja dunia. Apalagi sepertiga produk baja dunia, itu dihasilkan dari China.

"Inilah yang membuat kami harus bekerja keras. Kita harus juara. Paling tidak tahun 2020 sudah masuk dalam 10 perusahaan terkemuka di dunia. Kami yakin bisa," ujarnya yakin.

Tahapan yang dilakukan adalah pertama: sampai tahun 2008, bagaimana PT KS bisa berkompetisi dengan China untuk unggul dalam ongkos. Memang bukan gampang kata mantan direktur pemasaran ini. Sebab China bukan murah di baja saja. Motor saja mereka murah. "Tapi bagaimanapun penting hemat dalam ongkos. Hanya itu yang bisa dilakukan oleh setiap perusahaan untuk bisa hidup pada masa yang akan datang. Menurut informasi, di India, hot rolled coils (HRC) itu sekitar $560/ton, bahan baku $540," jelas Ketua Umum Perhimpunan Ahli Tehnik wilayah Banten ini.

Menurutnya, kalau PT KS tidak menekan ongkos di hulu, maka produk yang dijual di hilir seperti: HRC, Cold Rolled Coils (CRC), Wire Rod, billet, dan slab tidak akan laku karena harganya tinggi. Sehingga adanya upaya pemanfaatan bahan baku lokal guna menghemat ongkos, sekitar $50/ ton. Di mana ongkos dari Amerika Latin, berkisar $30$32/ton.

Pendirian pabrik pengolahan bijih besi KS di Kalimantan Selatan, kata Daenulhay, sebagai upaya pemakaian bahan baku lokal diperkirakan membutuhkan dana US$460 juta. Dana tersebut diperlukan untuk membangun pabrik pengolahan pellet berkapasitas satu juta ton per tahun dan pig iron 300 ribu ton per tahun. "Kita tidak tergantung bahan baku impor lagi," ujarnya.

Sementara untuk mengantisipasi keterbatasan gas, lanjut dia, PT KS menggantikannya dengan batubara. Kemudian melakukan approach ke Pertamina, agar gas yang disepakati dalam kontrak tidak lebih kecil. "Kita kontrak dengan Pertamina sekitar 80 MMSCFD. Kita dapat tambahan dari PGN sekitar 50-70. Ini digunakan untuk pembakaran di PLTU kita. Biaya untuk menghasilkan listrik Rp 600-Rp 700 per Kwh. Ini jauh lebih kecil dibandingkan pakai minyak yang mencapai Rpl400 per Kwh," jelasnya.

Tahun 2020 disebutkan Daenulhay sebagai tahun Quantum Quality. Dia berani mengatakan itu karena yakin mencapai peningkatan yang sangat signifikan. Harapannya mendapatkan produksi 8 kali lipat, yang mencapai 20 juta ton. Jika tercapai berarti yang tadinya dengan produksi 2,5 juta ton dengan pembelanjaan Rp 600 M, berarti pembelanjaan tahun 2020 dikali 8 juga.

Tahun 2007 PT KS, lanjut Daenulhay, lebih konsentrasi pada program revitalisasi terutama di hulu sehingga tidak melakukan investasi yang besar. Namun dengan meningkatkan program efisiensi di bidang penggunaan bahan bakar, perseroan menargetkan meraih laba Rp 290 miliar. Sementara capital expenditure (belanja modal) tahun 2007 mencapai Rp 525 miliar. Biaya tersebut meliputi revitalisasi, transformasi teknologi, sistem informasi, bangunan gedung, pipalisasi, dan sebagainya.

Peduli Masyarakat

Bagaimana komitmen PT KS dalam bidang sosial. Di tengah nama besarnya PT KS ternyata begitu peduli dengan lingkungan sekitarnya. Dalam program PKBL, PT KS memiliki 3 ribuan mitra binaan yang berada di Banten dan luar Banten. Sejak tahun 1992 sudah menguncurkan Rp 9 miliar buat PKBL baik untuk kemitraan maupun bina lingkungan. PT KS memberikan pinjaman lunak ke masyarakat dengan bunga 7%-9%. Kepada mitra binaan, PT KS mengajarkan berbagai produk kerajinan dan teknologi.

(Sumber: Review - 12 September 2007)

 Dilihat : 3620 kali