26 Maret 2008
Produsen Baja Lapis Seng Stop Produksi

JAKARTA. Melonjaknya harga baja canai dingin atau cold rolled coils (CRC) sejak akhir tahun lalu ternyata sudah memakan korban. Produsen baja lapis seng (BjLS) yang bahan bakunya berasal dari CRC banyak yang berhenti operasi karena order pelanggan sepi. Sementara produsen BjLS yang masih bertahan mengalami penurunan produksi cukup drastis.

Saat ini, bahan baku CRC mencapai US$ 1.100 per ton, padahal sebelumnya masih di bawah US$ 9.000 per ton. Data Gabungan Pabrik Seng Indonesia (Gapsi) menyebut, realisasi produksi BjLS pada kuartal pertama 2008 di bawah 50.000 ton, turun 50% dibanding dengan periode yang sama tahun lalu, sebesar 100.000 ton.

Ketua Gapsi, Agus Salim mengatakan, kenaikan harga bahan baku secara otomatis meningkatkan biaya produksi perusahaan. Produsen makin terjepit karena masih ada tambahan biaya sebesar US$ 84 per ton guna mengolah bahan baku CRC menjadi lembaran berukuran 0,2 milimeter. "Dengan demikian, bahan baku yang siap diolah menjadi BjLS harganya sudah di atas Rp 10.000 per kg. Itu patokan harga di Februari dan Maret. Sementara pada April, harganya sudah melonjak lagi dan akan terus berlanjut hingga September 2008 mendatang," kata Agus, Selasa (25/3).

Di sisi lain, lanjut Agus, permintaan justru makin sepi. Sepinya pelanggan itu merupakan pengaruh dari kenaikan bahan baku. Pasalnya, di tengah tingginya harga baja dunia banyak pelanggan yang membatalkan pesanan. "Padahal, kini produsen sudah memangkas marjin dan mempertahankan harga di kisaran Rp 34.000 per lembar. Mestinya, dengan harga CRC sekarang harga baja seng 0,2 mm ukuran 3x6 meter sudah mencapai sekitar Rp 37.000 per lembar," papar Agus.

Agus menyadari, jika harga jual tetap mengikuti keinginan pelanggan, pabrikan banyak merugi, bahkan bisa gulung tikar. Karenanya, sebagian dari produsen BjLS terpaksa mengurangi produksi dan berhenti berproduksi sementara.

Yang membuat Agus makin khawatir, kondisi itu dimanfaatkan para importir pedagang untuk memasukkan impor ilegal BjLS. "Indikasinya sudah ada, yaitu terjadinya penyusutan impor legal pada kuartal pertama. Kami khawatir yang legalnya turun, tapi impor ilegalnya menjadi marak," imbuh Agus. Havid Vebri

Sumber: Harian Kontan, Page : 14

 Dilihat : 4285 kali