25 Maret 2008
Industri baja terjepit akibat kenaikan harga

Bisnis Indonesia JAKARTA: Harga baja canai panas (hot rolled coifc/HRC) di pasar dunia untuk pengiriman Mei, kembali mencapai titik tertinggi di kisaran US$1,100 per ton US$1,200 per ton menyusul lonjakan harga bijih besi pellet (iron ore pellet/\OP) yang mencapai.di atas 100% atau menjadi sekitar US$229 per ton.

Berdasarkan data Steel Business Briefing yang dikutip PT Krakatau Steel, lonjakan harga IOP itu mengakibatkan harga bahan baku HRC berupa slab melonjak 92% dari US$500 per ton pada Januari ke posisi US$960 per ton untuk pengiriman Mei.

Harga besi bekas (.scrap) di AS pada April juga akan terdongkrak menjadi US$440 per ton. Saat ini harga scrap di pasar domestik sudah berada di posisi US$520 per ton.

Direktur Pemasaran KS Irvan Kamal Hakim mengatakan lonjakan harga baja dunia itu terus berlanjut hingga akhir 2009, mengingat harga bahan baku mengalami volatilitas naik sehingga secara otomatis meningkatkan biaya produksi.

"Pendorong utama kenaikan harga baja dunia itu karena lonjakan sejumlah raw material, ongkos angkut, dan bahan baku pendukung seperti cooking coal dan cokes (kokas). Kalau sudah begini, praktis komoditas baja yang lain akan berubah semua. Saat ini kenaikannya sudah dalam hitungan bulan bukan kuartalan," kata Irvan, kemarin.

Inisiasi penurunan harga baja, lanjutnya, akan terjadi jika produsen besar baja dari 4 negara yakni Korea, China, Jepang dan Uni Eropa (Corus Steel, Thysen-Krupp, dan ArcelorMittal) bersepakat menurunkan produksinya akibat kelebihan pasok.

Semakin melambungnya harga baja dunia, berdampak positif bagi industri baja nasional karena berkurangnya spekulan baja akibat keterbatasan modal kerja.
"Kalau mereka yang selama ini hobinya impor, sekarang kena batunya karena harga baja dunia sudah terlalu tinggi."

Di sisi lain, lonjakan harga baja semakin meningkatkan biaya produksi di sejumlah sektor hilir baja. Kondisi secara langsung akan memangkas pasar baja di dalam negeri akibat melemahnya daya beli konsumen.

Ketua Gabungan Pabrik Seng Indonesia (Gapsi) Agus Salim menyatakan, para produsen hilir baja secara otomatis terkena imbas dari lonjakan harga baja dunia tersebut.

Sumber : Bisnis Indonesia, Page : T2

 

 Dilihat : 3210 kali