25 Maret 2008
Harga Baja HRC Mencapai US$ 1.000 per ton

JAKARTA. Gawat! Harga baja canai panas atau hot rolled coils (HRC) kian melonjak tinggi. Saat ini, harga HRC dunia untuk pengiriman Mei sudah mencapai US$ 950 hingga US$ 1.000 per ton atau melonjak 42,8% dibandingkan Januari 2008 yang masih US$ 710 per ton.

Tren kenaikan harga HRC itu benar-benar di luar perkiraan pelaku industri baja. Selain itu, tren kenaikan bakal terus berlangsung hingga kuartal III/2008. "Sebelumnya, kami memprediksi sekitar Juni harganya US$ 800 per ton, ternyata kenaikannya lebih cepat dari perkiraan kami," kata Direktur Marketing IT Krakatau Steel (KS) Irvan Kamal Hakim, di Jakarta, Senin (24/3).

Irvan bilang, pemicu drastisnya lonjakan harga HRC itu adalah naiknya harga bijih besi (iron ore) hingga 100% dari sebelumnya US$ 113 per ton pada Januari 2008, menjadi US$ 229 per ton. "Tingginya harga raw material itu membuat harga iron ore pelet juga naik hingga 86%. Belum lagi ongkos angkut (freight cost) dan batu bara juga naik tinggi," ujar Irvan.
Lonjakan harga bijih besi dan iron ore pelet itu sontak membuat harga baja slab, bahan baku HRC, mendaki. Saat ini, harga baja slab sudah mencapai US$ 960 per ton, naik 92% dibanding harga Januari 2008 yang cuma US$ 500 per ton. Dengan harga slab yang tinggi, kata Irvan, KS harus menambah ongkos pembelian bahan baku lebih dari US$ 1.000 untuk menghasilkan satu ton HRC. Sebab, satu ton baja slab hanya menghasilkan 0,96 ton HRC.

Tak hanya produsen HRC yang menjerit, pengusaha baja hilir lain, seperti baja lapis seng (BjLS) juga ikut merana. Lebih tragis lagi, kenaikan harga bijih besi dan baja itu ternyata akan ikut mendongkrak harga jual properti. "Kenaikan besi sebagai komponen utama proyek properti, memaksa kami menaikkan harga jual 15% sampai 20%," kata Direktur Pemasaran Agung Podomoro, Indra W. Antono.

Sumber : Harian Kontan, Page : 1 

 

 Dilihat : 3103 kali