25 Maret 2008
Harga Baja Sentuh Rekor Baru

JAKARTA (SINDO) Harga baja canai panas (hot rolled coils/HRC) kembali menyentuh rekor harga tertinggi sebesar USD1.000 per ton untuk pengiriman bulan Mei.

Angka untuk pengiriman bulan Mei ini naik 42,8% dibandingkan harga pada bulan Januari sebesar USD710 per ton. "Drastisnya lonjakan harga HRC dipicu naiknya harga iron ore (bijih besi) hingga 100% dari sebelumnya USD113 per ton (Januari 2008) menjadi USD229 per ton. Tingginya harga raw material itu membuat harga fron ore pellet .juga naik hingga 86%. Belum lagi ongkos angkut dan batu bara yang juga naik tinggi," ujar Direktur Marketing PT Krakatau Steel (KS) Irvan Kamal Hakim di Jakarta kemarin.

Irvan mengungkapkan, sebelumnya KS memprediksi harga HRC baru akan menyentuh angka USD800 per ton pada Juni 2008. Ternyata, prediksi awal tersebut salah dan kenaikan terjadi jauh lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Irvan menjelaskan, lonjakan harga bijih besi dan iron ore pellet itu otomatis membuat harga baja slab (bahan baku HRC) menjulang. Saat ini, harga baja slab sudah mencapai USD960 per ton atau naik 92% dibandingkan harga pada Januari yang masih USD500 per ton.

Dengan harga slab yang tinggi, lanjut Irvan, KS harus merogoh modal pembelian bahan baku lebih dari USD1.000 untuk menghasilkan 1 ton HRC. Sebab, 1 ton baja slab hanya menghasilkan 0,96 ton HRC.

"Kalau untuk beli bahan baku saja KS mengeluarkan uang lebih dari USD1.000 per ton, lalu berapa kami harus menjual HRC di pasar dalam negeri?" cetusnya.

Irvan menuturkan, untuk mempertahankan realisasi produksi HRC sesuai kapasitas terpasang, yakni 180.000 ton per bulan, KS tetap harus mengimpor slab guna memenuhi ketersediaan bahan baku sebanyak 400.000 ton per tahun. Adapun total kebutuhan baja slab di KS mencapai 2 juta ton per tahun, sedangkan kemampuan produksi KS hanya 1,6 juta ton. "Sisanya itu yang diimpor," paparnya.

Dia menambahkan, saat ini sudah ada beberapa produsen baja dari tiga negara yang menawarkan HRC ke KS, di antaranya Australia, Korea Selatan, dan Kazakhstan. Total volume HRC yang ditawarkan mencapai 80.000 ton dengan harga bervariasi antara USD950-1.000 per ton. Semua untuk pengiriman bulan Mei mendatang. "Kami masih menghitung semuanya. Barangnya sih ada tapi harganya tinggi. Jangankan beli barang jadi, beli bahan baku saja kami harus hati-hati. Jadi, baik kemungkinan impor slab maupun HRC itu masih dikaji. Dengan demikian, sekarang kami belum bisa menentukan harga HRC untuk posisi bulan Juni berapa? Kalau saat ini harga jual HRC oleh KS di pasar domestik masih Rp8.800/kg," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Gabungan Pabrik Seng Indonesia (Gapsi) Agus Salim mengungkapkan, para produsen baja hilir secara otomatis terkena imbas dari lonjakan harga baja dunia tersebut. Menurut Agus, kenaikan harga HRC itu mendorong harga sejumlah produk hilir, terutama baja lapis seng (BjLS). Pasalnya, harga HRC yang sekarang sudah mencapai USD950-1.000 per ton itu sontak melambungkan harga baja canai dingin (cold rolled coils/CRC), bahan baku BjLS, menjadi di atas USD1.000 perton.

"Dengan demikian, mestinya harga produk BjLS kami sekarang sudah Rp37.000 per lembar, tapi karena ada penolakan di pasaran terpaksa kami menjual dengan harga Rp34.000 per lembar," kata Agus kemarin.

Karena tidak mampu mengimbangi kenaikan harga bahan baku CRC, produsen BjLS pun terpaksa memangkas margin. "Kami juga memaklumi daya beli konsumen sekarang sedang lesu," ujarnya.

Agus menuturkan, kelesuan pasar BjLS mul ai dirasakan sejak bulan Februari. Kondisi itu membuat para agen penjualan BjLS menolak rencana produsen menaikkan harga BjLS menjadi.Rp 37.000 per lembar. Selain itu, menurut Agus, para agen khawatir dalam waktu dekat harga baja dunia turun lagi. "Jadi para agen itu takut rugi," ucapnya. (agung kurniawan)

 

 Dilihat : 3046 kali