25 Maret 2008
Harga Baja Dunia Tembus US$ 1.000/Ton

JAKARTA-Harga baja dunia diperkirakan menyentuh US$ 1.000/ton pada pertengahan tahun ini menyusul kenaikan harga bahan baku berupa bijih besi sekitar 100%, lonjakan biaya angkut impor, dan tingginya biaya energi. Jika itu terjadi, harga baja dunia melonjak sekitar 100% dalam waktu setahun terakhir.

Lonjakan harga baja canai panas (hot rolled coil/HRC) yang menjadi patokan produk baja secara keseluruhan memengaruhi ekspektasi pasar domestik. Pergerakan harga yang sangat cepat menyulitkan pelaku usaha di dalam negeri.

Direktur Pemasaran PT Krakatau Steel (KS) Irvan Kamal Hakim menjelaskan, harga bijih besi di pasar spot dunia saat ini telah meroket 100% dibandingkan posisi awal 2008 dari US$ 113/ton menjadi US$ 229/ton. Sementara itu, harga bahan baku HRC hasil olahan dari bijih besi (slab) telah menyentuh US$ 950-960/ ton untuk pengiriman Mei mendatang. "Kazhakstan bahkan sudah menawarkan KS untuk impor HRC dari mereka senilai US$ 1.000/ton. Jadi memang harga baja dunia sudah super tinggi," ucapnya di Jakarta, Senin (24/3).

Menurut Irvan, kenaikan harga baja dunia itu dimulai sejak Juli 2007 saat harga HRC dunia mencapai US$ 550/ton. Pada Desember 2007, harga baja dunia telah menyentuh US$ 610/ton dan terus bergerak di level US$ 650/ ton pada awal Januari 2008. Pada Februari 2008, harga sudah mendekati US$ 710/ton dan terus bergerak hingga melewati US$ 800/ton pada awal Maret.

Karena itu, lanjut dia, KS belum bisa menentukan harga jual untuk pengiriman Juni 2008 mengingat fluktuasi yang begitu tajam. Saat ini KS masih menjual HRC sekitar Rp 8.800/ kg. "Kami khawatir salah menentukan harga jual sehingga tidak bisa membeli bahan baku yang sudah telanjur naik dua kali lipat," tuturnya!

Apalagi, dia menerangkan, KS masih membutuhkan impor slab sekitar 400 ribu ton per tahun untuk menjalankan pabrik pembuat HRC dengan kapasitas maksimal, yakni 1,5 juta ton. "Jadi kami harus menjaga harga jual agar dapat membeli bahan baku," ucapnya.

Lonjakan harga HRC hingga menyentuh US$ 1.000/ton itu telah melampaui rekor tertinggi harga baja yang sempat mencapai US$ 800/ton pada awal Maret 2008. "Dengan lonjakan harga yang begitu tajam, para produsen baja dunia cenderung menjual produknya di pasar spot. Begitu juga produsen bijih besi. Ini yang sedikit menyulitkan produsen baja domestik," paparnya.

Tingginya harga baja ini, kata dia, sudah mengkhawatirkan karena dapat memicu aksi spekulasi dan tergerusnya margin industri hilir yang tak mampu mengimbangi kenaikan tersebut. "Jika harga terlalu tinggi, pasar domestik sulit menjangkau. Akibatnya, produsen baja sulit menjual produknya," ucapnya, (dry)

Sumber : Investor Daily Indonesia, Page : 22 

 

 Dilihat : 2595 kali