19 Maret 2008
RAKSASA BRASIL MENDAKI PUNCAK

Vale berpeluang menjadi perusahaan tambang terbesar jika memenangi adu siasat melawan pesaing Oleh Joshua Schneyer, BusinessWeek Produsen baja akan sulit memandang Vale sebagai sekutu alami. Pasalnya, perusahaan dari Rio de Janeiro ini adalah penyuplai bijih besi terbesar di dunia. Dan, pada 18 dan 19 Februari lalu, mereka mendesak produsen baja di Jepang, Korea, dan Jerman menerima lonjakan harga balian baku setinggi 65%. Parahnya lagi, kenaikan itu terjadi saat Vale tengah menjajaki kemungkinan mengakuisisi Xstrata (perusahaan tambang Swiss yang merupakan ke-6 terbesar di dunia). Perkawinan ilu akan menjadikan perusahaan asal Brasil tersebut kian leluasa mematok harga kepada para produsen baja.

Roger Agnelli, Chief Executive Vale, berdalih rencana merger itu adalah demi kepentingan semua pemain dalam industri. Gabungan itu akan menghasilkan kapasitas produksi yang mengimbangi kekuatan China di pasar bijih besi dan baja dunia. Industrialis Barat harus "bangun" menghadapi kekuatan China, ujar Agnelli di American Chamber of Commerce di Rio pada Oktober lalu. Ia menambahkan, semua pemain dalam industri pertambangan yang kian terpadu adalah pemburu atau pihak yang diburu. Lelaki 48 tahun ini ingin Vale (dulu bernama Companhia Vale do Rio Doce) menjadi salah satu jawara dan menggapai posisi sebagai perusahaan tambang terbesar di dunia. Kini, citacita tersebut kian mendekati kenyataan. Sejak Agnelli mengambil tampuk kekuasaan pada 2001, Vale telah mengakuisisi lebih dari 12 perusahaan tambang dan logam, baik di Brasil maupun mancanegara. Kini, operasi perusahaan tersebut tersebar di enam benua. Di bawah kemudi Agnelli, para pemegang saham menyaksikan tingkat imbal hasil yang mencapai 64% per tahun.

Memiliki Xstrata akan menjadi kunci pencapaian ambisi Agnelli. Perusahaan asal Swiss itu adalah penambang besar tembaga, nikel, dan batu bara. Tambang mereka tersebar di 18 negara (termasuk Brasil dan AS). Vale enggan menjelaskan penawaran tersebut secara terbuka. Namun, sumber BusinessWeek mengungkapkan perusahaan tersebut hampir mendapatkan pinjaman $50 miliar untuk membantu membayar bagian tunai dari penawarannya (yang secara total bisa mencapai lebih dari $90 miliar).

BEREBUT SUPREMASI Perusahaan tambang China tampaknya akan melakukan perlawanan. Mereka terbukti bersedia merogoh dalam-dalam demi menguasai sumber daya. Pada 1 Februari lalu, perusahaan BUMN Aluminium Corp. of China (Chalco) bersekutu dengan Alcoa (yang berbasis di Pittsburgh, AS) membeli 9% saham Rio Tinto yang berbasis di London (perusahaan tambang terbesar ke-3 di dunia) dengan banderol $14 miliar.

Rio Tinto merupakan target akuisisi BHP Billiton (perusahaan asal Australia). Chalco belum mengungkapkan motif pembelian saham tadi. Tetapi, tampaknya ini terkait dengan kemungkinan perusahaan tambang China menjadi pecundang besar jika niat BHP kesampaian. (Perusahaan hasil merger akan memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dalam mematok harga.) Inilah yang membuat banyak pengamat memprediksi Chalco akan memanfaatkan posisinya saat ini untuk menjegal kesepakatan. Beberapa analis berspekulasi, untuk alasan yang sama, perusahaan tambang China akan mengincar sebagian kepemilikan Xstrata.

Sebenarnya, kedua pihak dalam adu siasat tak lazim ilu saling membutuhkan. Sejak 2002, Vale telah meningkatkan pasokan bijih ke China sebanyak lima kali lipat, menjadi 100 juta metrik ton pada 2007. Tahun ini, produsen baja China kemungkinan akan mengonsumsi hampir setengah bijih besi dunia, termasuk 40% hasil ekspor Vale. Setelah produsen baja Jepang dan Korea menyetujui peningkatan harga (kenaikan ke-6 secara berturut-turut), produsen baja China kemungkinan akan terpaksa mengikuti.

Jantung aktivitas pertambangan Vale berada di kompleks luas di Carajas, di tengah hutan Amazon. Perusahaan itu punya tiga tambang di wilayah tersebut. Di sana, para pekerja terkadang menjumpai kucing hutan besar dan mendengar erangan monyet howler yang membuat merinding. Siang dan malam, sebuah armada yang terdiri atas lebih dari 100 truk seukuran rumah keluar masuk tambang sedalam 457 meter. Kendaraankendaraan itu mengangkut berjuta-juta ton hasil pengerukan setiap harinya. Bongkahan-bongkahan batu raksasa dimasukkan ke dalam mesin pemecah untuk diproses menjadi bijih besi.

Vale menganggap China (yang berjarak lebih dari 20.921 kilometer) sebagai pelanggan utama tapi berlokasi terlalu jauh. Ongkos pengiriman (untuk 45 hari perjalanan mengelilingi wilayah selatan Afrika) lebih merugikan mereka dibanding yang dialami RHP. Inilah yang membuat Agnelli ingin menjual lebih banyak bijih ke AS (yang hanya satu minggii perjalanan laut} atau Eropa (hanya dua minggu). "China adalah pasar utama kami. Tapi, ia bukan pasar alamiah kami," ujar Tito Martins (Top Deputy Agnelli),

Vale punya ide cemerlang lain. Mereka meminta para pelanggan besar membangun pabrik di Brasil. Beberapa perusahaan besar sudah menyatakan berminat. ArcelorMittal dan Dongkuk (masing-masing berbasis di Luksemburg dan Korea) tengah menyusun rencana untuk membangun pabrik baja di Brasil dan memperoleh pasokan bijih besi dari Vale.

Baostcel dari Shanghai ikut kepincut dengan sumber daya di Brasil yang melimpah. Perusahaan tersebut tengah membangun pabrik senilai $5 miliar di Kota Vitoria yang terletak di wilayah tenggara. Dengan kehadiran pabrik itu, Brasil bisa berharap produksi baja mereka akan berlipat ganda menjad i 34 juta ton pada 2013.

Melihat Vale yang kian mendunia, beberapa pengamat di Brasil cemas bahwa ambisi global akan menyurutkan kinerja pengelolaan pabrik-pabrik mereka di dalam negeri. "Vale mestinya mengurus pekarangan mereka sendiri, yakni Brasil," ujar pemimpin serikat pekerja Novarck de Oliviera.

Martins berdalih cara Lerbaik untuk menjamin masa depan dan posisi terdepan Vale di Brasil adalah dengan terus tumbuh, apa pun caranya. Menurutnya, "[Agar berkembang], kami memerlukan sumber daya lama dan baru, melakukan akuisisi, serta tumbuh secara organik."

Sumber : Business Week, Page : 28 

 

 Dilihat : 5951 kali