15 Maret 2008
China Nickel realisasikan investasi US$220 juta

JAKARTA: China Nickel Resources Holdings Co (China Nickel), salah satu produsen baja terbesar di China yang berbasis di Hong Kong, segera merealisasikan pembangunan pabrik baja kasar (billet) tahap I senilai US$220 juta berkapasitas 1 juta ton di Kalimantan Selatan.

Investasi tersebut mengambil lokasi di luar Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (Kapet) Batulicin seluas 300 hektare atau bergeser dari rencana semula di dalam Kapet. Perubahan lokasi ini terjadi karena kebijakan Pemprov Kalsel menyangkut hak sewa lahan di Kapet Batulicin dinilai tidak berpihak pada investor.Direktur Industri Logam Ditjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka Departemen Perindustrian I Putu Suryawirawan menjelaskan rencana tersebut segera direalisasikan pada sekitar akhir April tahun ini.
Setelah menyelesaikan pembangunan pabrik tahap I, kata Putu, China Nickel berencana kembali mengucurkan tambahan investasi US$280 juta untuk meningkatkan produksi hingga menjadi 2 juta ton billet (kelompok baja long product].

Melalui PT Mandan Steel, katanya, proses pembangunan pabrik China Nickel di lahan baru tersebut sudah memasuki tahap land clearing (pematangan lahan) dan pada Maret ini mulai mendatangkan mesin mesin produksi dari China.

Kepastian penyediaan lahan itu akhirnya diperoleh setelah investor China ini difasilitasi oleh Bupati Tanah Bumbu. "Pada 25 April ini akan dilakukan pemancangan tiang pertama (ground breaking) di tempat itu. Seharusnya pada Januari, tetapi gara-gara urusan lahan akhirnya mundur 5 bulan," kata Putu, kemarin.

Dirjen ILMTA Depperin Ansari Bukhari menambahkan saat ini perusahaan PT Krakatau Steel dan PT Aneka Tambang Tbk masih terus bernegosiasi dengan Pemprov terkait dengan kemungkinan perusahaan itu bertahan di kawasan Kapet Batulicin.
KS-Antam akan membangun pabrik pengolahan besi berkapasitas 300.000 ton (steel making) dengan investasi US$60 juta di Kapet Batulicin seluas 30 ha Di perusahaan patungan itu porsi saham KS sebesar 65%, sementara Antam 35%.

Sumber : Bisnis Indonesia, Page : 4 

 Dilihat : 2769 kali