15 Maret 2008
Mandan Steel Bangun Pabrik Baja US$ 220 Juta

JAKARTA Perusahaan baja asal Tiongkok yang berbasis di Hong Kong, China Nickel Resources Holdings C6, melalui anak usahanya, PT Mandan Steel, membangun pabrik baja kasar (billet) di Indonesia dengan total investasi US$ 220 juta. Pabrik baru yang berlokasi di Batulicin, Kalimantan Selatan, itu direncanakan berkapasitas 1 juta ton per tahun.

Direktur Industri Logam Departemen Perindustrian (Depperin) I Putu Suryawirawan menjelaskan, kepastian pembangunan pabrik baru Mandan Steel itu diperoleh setelah perusahaan tersebut membeli lahan seluas 330 hektare. "Pada 25 April 2008 akan dilakukan pemancangan tiang pertama (ground breaking) pembangunan pabrik baru itu. Seharusnya pada Januari lalu, tapi gara-gara urusan lahan akhirnya mundur lima bulan," katanya di Jakarta, Jumat (14/3).

Seiring dengan pembangunan konstruksi pabrik, menurut dia, Mandan Steel akan mendatangkan mesin-mesin produksi dari Tiongkok. Pembangunan pabrik baja berkapasitas 1 juta ton itu merupakan tahap awal dari megaproyek perusahaan asal Tiongkok tersebut. Setelah pabrik tahap pertama berdiri, Mandan Steel akan meningkatkan investasi hingga US$ 500 juta guna melipatgandakan kapasitas produksinya menjadi 2 juta ton pertahun.
Pabrik baru milik Mandan Steel itu akan dipasok bahan baku bijih besi (iron ore) dari PT Yiwan Mining sekitar 2 juta ton per tahun. Dalam proses produksi, Mandan Steel akan menggunakan teknologi peleburan bijih besi (blast furnace) pertama di Indonesia yang dioperasikan oleh 200 insinyur Tiongkok.

Putu menjelaskan, Mandan Steel akhirnya memilih lahan di luar Kawasan Pembangunan Ekonomi Terpadu (Kapet) Batulicin, Kalimantan Selatan (Kalsel). Sebelumnya, perusahaan asal Tiongkok itu membatalkan pembangunan pabrik baja di Kapet Batulicin menyusul kebijakan Pemprov Kalsel tentang hak sewa lahan yang dinilai tidak berpihak kepada investor. Tanah milik Pemprov Kalsel di area Kapet Batulicin hanya disewakan selama lima tahun sebelum membuat perjanjian baru, sementara investor diharuskan membayar tarif sewa tanah sebesar 5% dari nilai jual objek pajak (NJOP).

Kekisruhan penyewaan tanah itu terjadi karena adanya penafsiran Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 17/2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Daerah. Dalam menafsirkan peraturan tersebut, Pemprov meminta agar bisa terlibat dalam kepemilikan saham perusahaan perusahaan di area kapet. 'Inilah yang jadi masalah," katanya Sementara itu, menurut Putu, PT Mulia Permata (PMDN) juga akan membangun pabrik baja kasar berupa besi spons dengan kapasitas 60.000 ton dan pellet 200.000 ton di Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. "Urusan lahannya sudah diselesaikan," katanya.

Proyek KS Terkendala

Masalah lahan di Kalimantan Selatan ternyata ikut menghambat proyek pembangunan pabrik baja milik PT Krakatau Steel. Komisaris KS Ansari Bukhari mengatakan, saat ini perusahaan patungan PT Krakatau Steel dan PT Aneka Tambang Tbk (KS-Antam) masih terus bernegosiasi dengan Pemprov Kalsel, terkait kemungkinan kedua perusahaan BUMN itu membangun pabrik barunya di kawasan Kapet Batulicin.
KS-Antam semula akan membangun pabrik pengolahan besi (steel making) berkapasitas 300.000 ton hot bricket iron (HBI/besi briket panas), besi spons, dan pig iron, dengan investasi US$60 juta di Kapet Batulicin seluas 30 hektare. Pembangunan pabrik baru itu direncanakan dimulai April 2008.Di pemisahaan patungan tersebut, menurut dia, porsi saham KS sebesar 65%, sementara Antam 35%.

Sumber : Investor Daily Indonesia, Page : 13 

 

 Dilihat : 3567 kali