14 Maret 2008
Tanur Tiup, Solusi Teknologi Mandiri

DEPUTI ilmu Pengetahuan Teknik LIPI Prof Dr Masbah Siregar mengatakan LIPI selama kurun waktu 1990 hingga 1996, ketika tanur ini beroperasi, berhasil mengolah bijih besi menjadi besi kasar sebesar 25.090,57 ton Sebagai perbandingan dalam kurun waktu yang sama, kebutuhan impor nasional mencapai 193.042,747 ton.

"Jumlah ini adalah angka yang fantastis di mana belum ada teknologi dalam negeri yang bisa mengubah bongkahan batu menjadi besi murni," ujarnya. Kapasitas yang kecil ini cukup dan dinilai sangat membantu industri perajin besi lokal yang ada di Koperasi Pengecoran logam Ceper-Klaten. "Ada kurang lebih 200-an industri yang bisa hidup di sana," ujarnya.

Berbeda dengan industri baja nasional, PT Krakatau Steel, mereka memproduksi besi yang sudah jadi menjadi baja. Kebutuhan besi ini pun disuplai dari besi impor yang berasal dari China, Taiwan, Singapura dan lainnya.

"Meski .keuntungan tidak besar, tetapi kita harus memandang puluhan tahun lagi," ujarnya. LIPI menciptakan tanur riset adalah sebagai langkah ke depan untuk menciptakan teknologi kemandirian bangsa.

Menurut Masbah Siregar bahwa saat ini harga besi, terus meningkat tajam dari tahun ke tahun. Padahal seiring majunya teknologi, permintaan besi ini juga terus meningkat, "jika sekarang dibutuhkan tujuh juta ton besi per tahun, pada 2020 akan dibutuhkan lebih dari 15 juta ton per tahun," jelasnya.

Untuk mengatasi ketergantungan ini dan mencegah pembangunan kita terhenti karena harga besi yang melambung tinggi, makakemandirian bangsa dengan teknologi tanur tiup harus sudah mulai diterapkan dari sekarang.

Kepala UPT BPML LIPI Adil Jamali MSc, mengatakan, sebenarnya tanur riset ini sudah menjadi prototipe pabrik pengolahan bijih besi sejak tiga dekade silam. Sayangnya sampai mati suri belum ada juga investor dalam negeri yang tertarik mengolah bijih besi sendiri. Alasan seperti apa pun itu, dengan tidak adanya dukungan penelitian dari dalam negeri, maka usaha LIPI seperti ini akan tetap sia-sia saja. Terlebih, keluh para peneliti, anggaran penelitian dan pengembangan riset saat ini telah dikurangi. Dengan jumlah saat ini yang tidak signifikan, maka dikhawatirkan perkembangan teknologi. Indonesia semakin menurun.

Menurut Adil dan Masbah Siregar, industri tanur tiup yang diperkenalkan oleh LIPI saat ini, sudah sangat pas.
Agus DD

Sumber: Jurnal Nasional, Page : 21 

 Dilihat : 3871 kali