13 Maret 2008
Produk Tiongkok Dituduh Dumping

SURABAYA-Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) menyatakan, sejak 1996 hingga Maret 2008, terdapat 29 kasus dumping. Mayoritas kasus tersebut menimpa produk asal Tiongkok.

"Dengan rincian sebanyak 14 komoditas telah dikenakan bea masuk antidumping (BMAD), 13 komoditas ditutup penyelidikannya, 1 komoditas telah direkomendasikan untuk dikenakan BMAD dan 1 komoditas masih dalam proses penyelidikan," ungkap Sondang Anggraini, wakil ketua KADI saat sosialisasi antidumping pada seminar Implementasi Peraturan Anti Dumping di Mercure Hotel Surabaya, Selasa (11/3).

Sondang mengatakan, dari 13 komoditas yang ditutup penyelidikannya dikarenakan permintaan petisioner dan yang tidak ada hubungan sebab akibat antara dumping dan injury. Antara lain, kimia, plastik dan barang plastik, kertas, tekstil, hiasan, kain rajutan, besi, baja, aluminium, dan barang seng. "Dari semua ini ada kemungkinan produk lain yang akan dikenakan safeguard dan itu semua tergantung dari pihak pelapor atau petisioner yang dirugikan," katanya.

Ia menambahkan, dari semua produk impor yang dituduh dumping, Tiongkok menempati urutan pertama. Dibelakangnya negara asal Uni Eropa (UE) dan Amerika Serikat (AS). "Sementara ini Tiongkok masih menjadi ancaman produk Indonesia terkait soal dumping," tambahnya.

Mengenai pemberlakuan bea masuk antidumping (BMAD) untuk produk baja. Sondang menjelaskan, hingga saat ini pihaknya masih terus melakukan penyelidikan terhadap baja impor asal Tiongkok dan India.

"Memang ada pengaduan dari petisioner khususnya produsen baja yang dirugikan dengan kasus ini," paparnya. Sondang menuturkan, pemberlakuan antidumping produk baja dilakukan karena ada pengaduan dari PT Krakatau Steel. Menurut dia, mereka dirugikan karena baja impor asal Tiongkok dan India ditengarai harganya lebih murah dibanding baja lokal. "Yang saya tahu pemberlakuan bea masuk antidumping sedang dalam proses," tuturnya.

Seperti diberitakan, pemerintah mulai memberlakukan BMAD untuk produk baja dari sejumlah negara seperti Tiongkok dan India. Langkah ini diambil karena didasari adanya pengaduan produsen baja dalam negeri. Karena itu, Departemen Perdagangan (Depdag) melalui KADI secara intensif melakukan penyelidikan dan investasi terhadap baja impor, (zal)

Sumber: Investor Daily Indonesia, Page : 22 

 Dilihat : 2878 kali