12 Maret 2008
China Nickel dan KS-Antam hengkang dari Kapet Kalsel

JAKARTA: China Nickel Resources Holdings Co, salah satu produsen baja terbesar asal China, akhirnya memutuskan hengkang dari kawasan ekonomi terpadu (Kapet) Batulicin, Tanah Bumbu, Kalsel menyusul kebijakan pemprov Kalsel tentang lahan yang dinilai tidak berpihak kepada investor.

Direktur Industri Logam Ditjen ILMTA Departemen Perindustrian I Putu Suryawirawan mengatakan di kawasan itu, perusahaan patungan PT Krakatau Steel dan PT Aneka Tambang Tbk juga menghadapi masalah serupa, kedua perusahaan itu dipastikan mengikuti langkah China Nickel.

Permasalahan utama adalah adanya penafsiran Peraturan Mendagri No. 17/2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Daerah oleh Gubernur Kalsel.Menurut Gubernur, kata Putu, tanah milik Pemprov Kalsel di dalam Kapet hanya dipinjamkan selama 5 tahun, dan investor di dalam Kapet harus membayar tarif sewa tanah sebesar 5% dari nilai jual objek pajak (NJOP).

"Parahnya, kalau si investor sudah 5 tahun berada di Kapet, keberadaannya akan ditinjau kembali. Selanjutnya, Pemprov Kalsel meminta untuk ikut terlibat dalam saham perusahaan. Inilah yang jadi masalah," katanya. Di dalam Permendagri tersebut hanya dijelaskan bahwa pemanfaatan aset pemprov dimungkinkan, dan pihak swasta harus membagi untung dengan membayar kontribusi pajak setiap tahun. Swasta juga harus menanggung biaya surat perjanjian dan konsultan.

"Tapi aturan itu diterjemahkan Gubernur [Kalsel], menjadi Pemprov Kalsel berhak memungut sewa tanah dengan biaya 5% dari NJOP," katanya. Putu mengatakan China Nickel melalui anak usahanya PI Mandan Steel Indonesia, serius melanjutkan pembangunan pabrik billet dengan total investasi US$500 juta setelah mendapatkan izin resmi dari BKPM pada 2007. Investasi tahap pertama dikucurkan untuk pembangunan pabrik berkapasitas 500.000 ton billet. Selanjutnya, perseroan akan menambah produksi billet hingga 1 juta ton dengan nilai investasi US$500 juta.

Sumber : Bisnis Indonesia, Page : T2 

 Dilihat : 3032 kali