12 Maret 2008
TATA: JAGONYA PEDEKATE

Perusahaan raksasa asal India ini menemukan cara jitu untuk mengakuisisi perusahaan mancanegara Oleh Manjeet Kripalani, BusinessWeek Ravi Kant tersentak atas jawaban salah seorang manager di divisi truk milik Daewoo, saat ditanya siapa pemilik baru yang diinginkan para karyawan. Sang manager menjawab, mereka berharap orang Eropa bisa menjadi majikan baru mereka. Alasannya, merekalah yang paling mampu menjamin masa depan Daewoo. Kant adalah orang nomor satu di divisi komersial Tata Motors. Ia mengunjungi Gunsan, sebuah kota pelabuhan di Korea Selatan untuk menyurvai divisi truk milik Daewoo yang akan dilelang. "Saya tersadar kami harus merombak total strategi kami dan menjelaskan tentang Tata kepada warga Korea," ujar Kant,

Ia pun segera melancarkan serangan humas besar-besaran. Tata mendaftarkan jajaran eksekutif mereka untuk kursus bahasa Korea, menerjemahkan brosur ke bahasa Negeri Ginseng, dan melakukan presentasi ke para pegawai, chief asosiasi otomotif lokal, Wali Kota Gunsan, pejabat di Seoul, bahkan Perdana Menteri Korea. Tim lobi Kant juga menjelaskan, jika Tata terpilih, mereka akan mempertahankan semua pegawai, membangun Daewoo menjadi eksportir besar, dan mengintegrasikan perusahaan tersebut dengan perusahaan induk. "Tata telah mempelajari semua persyaratan untuk berbisnis di sini," ujar Ghae Kwang Ok, Chief Executive Tata Daewoo. Hasilnya, perusahaan asal India tersebut memenangi lelang itu dan membayar $102 juta.

Masyarakat AS kerap mengasosiasikan akuisisi dengan pelepasan pegawai dan penutupan pabrik. Sementara itu, Tata merupakan kelompok industri terdepan di India. Tahun ini, mereka diprediksi akan meraup $50 miliar dari hasil penjualan. Perusahaan itu memiliki pendekatan berbeda dalam melakukan merger. Mereka lebih taktis dibanding vulture capitalist (pemodal pengincar perusahaan yang tengah krisis).

Sejak 2000, saat mengakuisisi Tetley Tea yang dibanderol $400 juta, Tata telah menerapkan pendekatan ini dalam proses pembelian perusahaan mancanegara (yang nilai totalnya mencapai $18 miliar). Kini, mereka mempekerjakan 333.000 pegawai di seluruh dunia, 26% di antaranya adalah karyawan di luar India hasil akuisisi rumah desain dan teknisi di Inggris serta Italia, sejumlah hotel mewah di AS, pabrik baja di Asia dan Eropa, serta perusahaan perangkat lunak mancanegara.

Pada akhir Januari lalu, Tata Chemicals mengakuisisi General Chemical (produsen abu soda terdepan yang berbasis di Wyoming). Tata juga menyabet status favorit untuk memenangi pelelangan akuisisi mobil Jaguar dan Rover milik Ford dengan estimasi banderol Sl miliar.

Dalam setiap kesepakatan, Tata jeli untuk memperlihatkan kepedulian terhadap pekerja. Perusahaan itu tergolong unik karena tidak pernah memberhentikan karyawan atau menutup pabrik ketika mengakuisisi perusahaan di luar negeri (meski mereka sempat merumah

kan sejumlah pegawai di India dalam satu dekade terakhir). Namun, Tata selektif dalam menentukan sasaran dan jarang melakukan bottom fishing (mengincar kesepakatan investasi ketika harga tengah turun dari semestinya.)

"Tata mengakuisisi perusahaan mancanegara bukan untuk menghemat, melainkan untuk meningkatkan kemampuan [diri sendiri]," ujar Arun Maira, Chainnan Boston Consulting Group di India. Faktor latar belakang India yang dimiliki Tata telah memberi mereka banyak pengalaman dalam mengelola tenaga kerja yang majemuk. Di negara itu, karyawan memiliki latar kasta, agama, dan etnis yang beragam serta berkomunikasi dalam aneka bahasa dan logat.

Biasanya, Tata mempertahankan eksekutif perusahaan asing yang mereka akuisisi. Perusahaan itu tak pernah mengutus rombongan staf India ke perusahaan baru. Tata justru membangun dewan manajemen bersama yang akan mengemban tugas menentukan keputusan, mulai dari target pertumbuhan hingga pengembangan talenta baru. Mereka juga sering membentuk beberapa kelompok kerja guna menentukan target kolektif dan mengamanatkan para manajer untuk membantu mengatasi keanekaragaman budaya.

Menurut Philippe Varin, Chief Executive Corus (yang diakuisisi Tata Steel seharga $12 miliar tahun lalu), pendekatan ini memang memakan waktu. Namun, langkah tersebut memungkinkan Tata terus fokus pada masalah strategi yang lebih penting "tanpa perlu memusingkan persoalan kecil," ujar Varin.

Di Daewoo, Tata sadar tidak boleh bertingkah bak penguasa. Perusahaan itu membentuk dewan direksi bersama. Dan Chae, CEO Daewoo, diberi keleluasaan untuk mengelola perusahaan dengan caranya sendiri. Kant menginginkan dua eksekutif Tata bertindak sebagai penasihat. Chae menyambut mereka tapi bersikeras memasukkan mereka ke dalam tim manajemen. Ia mengajukan syarat: mereka harus mencukur habis kumis karena warga Korea lebih menyukai penampilan yang "bersih".

Tata memberi kontribusi dengan menciptakan strategi untuk mengembangkan Uni produk Daewoo dan meningkatkan ekspor. "Akuisisi tersebut merupakan win-win solution'' ujar Choi Jai Choon, ketua serikat pekerja di sana. Kini, Tata Daewoo berkontribusi sebesar dua pertiga atas ekspor truk besar Korea. Kondisi ini berbeda dengan era sebelumnya yang lebih fokus ke pasar domestik. Penjualan mereka diprediksi akan mencapai $670 juta untuk tahun anggaran yang berakhir Maret ini. Jumlah itu lebih dari dua kali lipat perolehan mereka sebelum diakuisisi.

Keberhasilan itu, menurut Kim Ki Chan (ahli industri otomotif di Catholic University of Korea), berkat suntikan $176 juta dari Tata. Kesuksesan itu juga berkat pendekatan mereka yang tidak ikut campur secara langsung. "Sulit menemukan peminang yang lebih baik dari Tata," ujar Kim.

Struktur shareholder Tata yang unik juga memberi mereka kemudahan untuk melangkah dengan tepat. Sejak didirikan pada 1868, Tata dikendalikan oleh sejumlah yayasan amal yang tidak hanya (bkus pada laba jangka pendek seperti kebanyakan investor lain. Kini, mereka menguasai 66% saham Tata Sons. Menurut R.K. Krishna Kumar, direktur di Tata Sons, sejak dulu perusahaannya melindungi para pegawai "dari ketamakan yang melanda dunia korporasi."

Semua sukses Tata yang luar biasa itu tentunya akan terus diuji. Apalagi, perusahaan tersebut kian terseret ke dalam kancah ekonomi global. Seperti disebutkan Tarun Khanna, profesor di Harvard Business School, "Cara menghadapi tekanan kompetisi di luar India tentunya tidak sama.1' Tetapi, siapa yang meragukan metode pendekatan yang dilakukan Tata? I bw iBersama Moon Ihlwan di Gunsan

Sumber : Business Week, Page : 24 

 Dilihat : 4647 kali