11 September 2007
Ekspansi Latinusa Gunakan Dua Opsi

JAKARTA (SINDO). PT Pelat Timah Nusantara (Latinusa), anak perusahaan PT Krakatau Steel, mempertimbangkan dua opsi untuk ekspansi meningkatkan kapasitas produksinya. Kedua opsi itu adalah penawaran vsaham perdana (initial public offering/IPO) atau modifikasi permesinan melalui kerja sama dengan mitra strategis.

"Latinusa sedang mengkaji untuk perluasan. Caranya bisa dalam bentuk penawaran saham perdana atau kerja sama dengan perusahaan lain," kata Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Logam,Tekstil Mesin,dan Aneka (ILMA) Departemen Perindustrian (Depperin) Ansari Bukhari seusai menerima jajaran Direksi dan Komisaris Latinusa di Jakarta,kemarin.

Langkah ekspansi tersebut, jelas Ansari, dilakukan untuk menutupi defisit pelat timah dalam negeri sebesar 70.000 ton per tahun. Kedua opsi tersebut, menurut dia, masih dikaji manajemen Latinusa sebelum dilaporkan ke induk perusahaannya dan diteruskan ke DPR melalui Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Ansari memaparkan, kebutuhan pelat timah dalam negeri pada 2006 Tercatat sebesar 166.000 ton per tahun. Sementara kapasitas produksi Latinusa sebagai satu-satunya perusahaan yang memproduksi pelat timah di Indonesia hanya 90.000 ton per tahun. "Sisa kebutuhan yang tidak tercukupi itu selama ini harus diimpor," ujar Ansari yang juga menjabat sebagai Komisaris Utama Latinusa.

Selain itu, tambah Ansari, ekspansi perlu dilakukan mengingat kinerja perusahaan tersebut terus meningkat pada saat biaya perluasan perusahaan terbatas. Berdasarkan pertemuan rutinnya dengan jajaran direksi Latinusa, papar dia, perusahaan sudah menunjukkan kinerja maksimal. Hal ini dibuktikan dengan pencapaian diatas 100% dari target yang ditentukan, mulai dari penjualan, produksi, hingga keuntungan.

Ansari mengungkapkan, pada semester 12007 impor pelat timah di pasar domestik sebesar 36.520 ton. Impor tersebut hampir separuh dari total produksi pelat timah Latinusa per semester yang mencapai 46.480 ton. Selain kurangnya produksi dalam negeri, tingginya impor pelat timah juga disebabkan kebijakan penurunan bea masuk pelat timah menjadi 12,5% pada tahun ini, dari 15% tahun lalu. "Jadi, peningkatan permintaan ini memang belum bisa dioptimalkan Latinusa," kata Ansari.

Anggota Komisi VI DPR Syafrin Romas mendukung langkah yang dilakukan Latinusa untuk melakukan ekspansi perusahaan. Namun, tegas dia, ekspansi tersebut harus benar-benar dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pelattimah dalam negeri.
(whisnu bagus)

Sumber : Harian Seputar Indonesia, 11 September 2007

 Dilihat : 2741 kali