11 Maret 2008
Penetapan BM AD baja picu aksi spekulasi harga

JAKARTA: Harga baja canai panas (hot rolled coils/HRC) di dalam negeri semakin tidak terkendali akibat lonjakan harga balian baku bijih besi dan sentimen pengenaan bea masuk antidumping oleh pemerintah kepada lima produsen baja global, yang memicu aksi spekulasi harga di tingkat pedagang.

Kelima produsen baja global asal China, Thailand, Taiwan, India, dan Rusia secara resmi telah dikenakan tarif bea masuk antidumping (BMAD) bervariasi menyusul dikeluarkannya keputusan Menteri Keuangan No. 39.1/PMK.011/2008 pada 28 Februari lalu.

Direktur Pemasaran PT Krakatau Steel Irvan Kamal Hakim mengatakan harga dasar HRC secara forward (untuk dua bulan mendatang) di pasar domestik diperkirakan mencapai Rp8.500 per kg. Harga tersebut belum termasuk PPN.

Menurut dia, harga HRC di pasar internasional dan domestik kembali bergejolak. Di Jepang, harga baja canai panas FOB (free on board) mencapai US$850.

"Mungkin saja sebesar itu, tapi kami belum membuka harga untuk delivery Mei. Jika di impor ke Indonesia dengan tambahan biaya pengiriman US$65 per ton, harga HRC bisa mencapai US$910 per ton," ujarnya, kemarin.

Harga slab (kelompok flat product Alahan baku HRC) juga ikut terdongkrak dari US$740 per ton pada akhir 2007 menjadi US$800 per ton. Sampai saat ini, harga baja internasional terus meningkat, dan diperkirakan stabil pada April.

Mulai melonjak Sumber Bisnis di Departemen Perindustrian mengungkapkan harga jual HRC dari KS di Jawa saat ini Rp9.350 per kg atau setara US$1,027 per ton dari posisi 17 Januari sebesar US$789 per ton. Jika harga bahari baku naik, harga HRC dipastikan akan kembali terdongkrak.

Sejumlah produk hilir seperti pelat baja dan baja tulangan beton mulai melonjak. Di spot pasar lokal seperti pasar Pangeran Jayakarta, pelat baja diperdagangkan dengan skala harga Rp11.880 per kg atau US$1,298 per ton, dari posisi di bawah Rp9.000 per kg pada Desember 2007.

"Saat ini importir, distributor, dan produsen di pasar lokal dalam kondisi panik. Akhirnya, mereka menyepakati plafon harga produk hilir baja pada skala tersebut," kata sumber itu, kemarin.

Dengan skala harga baja itu, akan berakibat pada pembengkakan biaya produksi antara 7%-9% bagi industri pengguna. Di saat yang sama, sejumlah produk hilir baja semakin tidak mampu bersaing dengan produk impor asal China yang harganya lebih murah.

Ketua Asosiasi Pabrik Billet Besi Beton Batang Kawat dan Profil Seluruh Indonesia (ABBEPSI) Ismail Mandry mengatakan meski produsen baja tulangan beton tidak secara langsung menggunakan HRC, sentimen lonjakan harga tersebut menyebabkan terdongkraknya harga baja tulangan beton pada Maret. "Baja tulangan beton pada September sekitar Rp4.000 per kg dan saat ini [Maret] sudah mencapai Rp9.000 per kg.

Otomatis cost produksi perusahaan meningkat tajam. Produsen harus mengalkulasi ulang proyek yang ada, karena kondisi ini mengguncang iklim usaha di sektor hilir," tuturnya.

Defisit HRC Dengan dikenakannya BMAD kepada lima negara tersebut, lanjut sumber itu, kebutuhan HRC di dalam negeri dikhawatirkan akan defisit cukup signifikan karena impor baja canai panas dari lima negara itu, khususnya China, cukup besar.

Menurut dia, kenaikan harga HRC di pasar domestik dan pengenaan BMAD baja akan menimbulkan spekulasi di tingkat pedagang baja karena keterbatasan pasokan.

Berdasarkan data Depperin, impor baja HRC sebelum dilakukan investigasi dumping dari kelima negara tersebut mencapai sekitar 900.000 ton. HRC asal China diperkirakan berkontribusi di atas 50%.

Direktur Industri Logam Ditjen ILMTA Depperin I Putu Suryawirawan mengatakan kenaikan harga baja di dalam negeri bukan akibat pengenaan BMAD, tetapi akibat lonjakan harga bahan baku bijih besi di pasar internasional US$250 per ton atau naik 65% dibandingkan dengan harga Desember 2007 sebesar US$200 per ton.

Sumber :  Bisnis Indonesia, Page : T2

 Dilihat : 2739 kali