11 Maret 2008
Harga Baja Makin Bergejolak

JAKARTA-Harga baja canai panas (hot rolled coils/HRC) di pasar domestik makin bergejolak, menyusul penetapan bea masuk antidumping (BMAD) oleh pemerintah terhadap produk impor dari lima negara yaitu Cina, Thailand. Taiwan, India, dan Rusia. Biaya pengiriman US$ 65 per ton, harga HRC bisa mencapai US$ 910 per ton.

Sementara itu, harga dasar HRC di pasar domestik juga naik ke level Rp 8.500 per kg. Harga tersebut belum termasuk PPN. Harga jual HRC dari KS di Jawa, jelasnya, saat ini mencapai Rp 9.350 per kg atau USS 1.027 per ton dari posisi 17 Januari sebesar US$789 per ton.

Ketua Asosiasi Pabrik Billet Besi Beton Batang Kawat dan Profil Seluruh Indonesia (Abbepsi) Ismail Mandry menjelaskan, meski produsen baja tulangan beton tidak secara langsung menggunakan HRC, sentimen lonjakan harga tersebut menyebabkan terdongkraknya harga baja tulangan beton pada Maret. "Baja tulangan beton saat ini ikut melonjak, dari sekitar Rp 4.000 per kg pada September 2007, menjadi Rp 9.000 per kg. Otomatis cost produksi perusahaan meningkat tajam. Proyekproyek harus mengalkulasi Penetapan BMAD itu diyakini memicu aksi spekulasi, karena pasokan HRC makin terbatas di dalam negeri.

Harga pelat baja di tingkat pedagang mulai melonjak lagi dari Rp 9.000 per kg pada Desember 2007, menjadi Rp 11.880 per kg atau US$ 1.298 per ton saat ini. Seiring dengan itu, harga HRC di pasar dunia juga meningkat dipicu lonjakan harga bijih besi.

Direktur Pemasaran PT Krakatau Steel (KS) Irvan Kamal Hakim mengakui, tren peningkatan harga baja dunia dipicu lonjakan harga bijih besi di pasar internasional yang menembus US$ 250 per ton, dari level US$ 200 per ton pada Desember 2007. Jika harga bahan baku naik, harga HRC dipastikan akan kembali terdongkrak.

"Harga HRC di pasar internasional dan domestik kembali bergejolak. Di Jepang, harga' HRC di pelabuhan asal (freight on board/FOB) mencapai US$ 850. Jika diimpor ke Indonesia dengan tambahan ulang karena kondisi ini sudah mengguncang iklim berusaha di sektor hilir," tuturnya.

Pasar Lokal Panik Sumber Investor Daily di Departemen Perindustrian (Depperin) mengatakan, penetapan BMAD baja telah memicu aksi spekulasi di tingkat pedagang baja karena dipastikan pasokan HRC di dalam negeri menjadi defisit. Harga sejumlah produk turunan HRC, seperti pelat baja dan baja tulangan beton, mulai melonjak. Di spot pasar lokal (kawasan DKI Jakarta) pelat baja diperdagangkan di level Rp-11.880 per kg atau US$ 1.298 per ton, dari posisi di bawah Rp 9.000 per kg pada Desember 2007. "Saat ini importir, distributor, dan produsen di pasar lokal dalam kondisi panik," kata sumber itu.

Kondisi itu, menurut dia, secara otomatis berdampak pada melonjaknya biaya produksi di industri hilir, seperti pipa baja, pengolahan baja canai dingin (cold rolled coils/CRC), dan baja lapis seng (BjLS) yang secara langsung menggunakan HRC sebagai bahan dasar.

Sejumlah produsen hilir baja itu mulai mengeluhkan kenaikan harga bahan baku HRC. Dengan skala harga baja itu, akan berakibat pada pembengkakan biaya produksi antara 7-9%. Di saat yang sama, sejumlah produk hilir baja semakin tidak mampu bersaing dengan produk impor asal Tiongkok yang harganya lebih murah.

Sebelumnya, pemerintah menetapkan BMAD antara 1,2% hingga 56,5% untuk produk HRC dari lima negara, yakni Tiongkok, Thailand, Taiwan, India, dan Rusia. Keputusan itu ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan No 39.1/PMK.011/2008 pada 28 Februari lalu.

Dengan dikenakannya BMAD kepada lima negara tersebut, lanjut sumber itu, kebutuhan" HRC di dalam negeri dikhawatirkan akan mengalami defisit. Berdasarkan data Depperin, impor baja HRC sebelum dilakukan investigasi dumping dari kelima negara tersebut mencapai 900.000 ton. Dari jumlah itu, HRC asal Tiongkok mendominasi di atas 50%. "Gambaran tersebut jelas membuktikan kalau defisit HRC akan terjadi dalam waktu dekat karena stok HRC di industri hilir terbatas, sementara pabrik harus terus berproduksi," katanya.

Namun, Direktur Industri Logam Depperin I Putu Suryawirawan mengatakan, kenaikan harga baja di dalam negeri bukan akibat pengenaan BMAD, namun akibat lonjakan harga bahan baku bijih besi (iron ore) di pasar internasional sebesar 65%, dari US$ 80 per ton menjadi US$ 150 per ton.

Sumber : Investor Daily Indonesia, Page : 26 

 Dilihat : 6863 kali