11 Maret 2008
TUNGKU TIUP DI TANJUNG BINTANG

LAMPUNG - Ember raksasa itu bergerak ke atas. Mesin pengerek lantas menarik rantai yang mengikat bagian bawah ember. Ember yang disebut ladle itu miring dan menumpahkan besi panas cair ke cetakan yang juga bergerak. Cairan laksana larva panas itu bercipratan ke tanah, memercikkan api ke banyak arah, membuat orang yang mengerumuninya surut ke belakang.

Kamis lalu, pabrik riset bijih besi milik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia resmi beroperasi kembali. Pabrik yang berlokasi di Tanjung Bintang, Lampung Selatan, itu dorman 12 tahun. Unit Pelaksana Teknis Balai Pengolahan Mineral Lampung yang membangunkan sekaligus mengoperasikannya sebagai pabrik proyek percontohan tanur tiup atau blastfurnace pertama di Indonesia.

"Pabrik ini berfungsi sebagai contoh teknologi tanur tiup untuk melebur bijih besi guna menghasilkan besi kasar batangan atau pig iron," Kepala Balai Pengolahan Mineral Lampung Adil Jamali menjelaskan.

Teknologi blast furnace sebenarnya tidak baru. Tapi kenyataan bahwa sampai sekarang Indonesia belum memiliki industri pengolahan bijih besi membuat penjelasan Adil sangat penting. Apa yang dilakukan Krakatau Steel, pabrik baja terbesar di Indonesia, misalnya, hanya mengolah bijih besi dalam bentuk pellet yang diimpor menjadi billet atau besi kasar bahan baku struktur baja.

Saat ini, hampir seluruh kebutuhan besi kasar nasional, yang mencapai 7 juta ton setahun, memang masih impor. Kalaupun tersedia di dalam negeri, itu berasal dari industri skala kecil yang mendaur ulang besi, yakni memproduksi pig iron dari peleburan besi bekas. "Pusatnya ada di Ceper, Klaten, Jawa Tengah," ujar Adil.

Padahal bijih besi berlimpah di Indonesia, dengan cadangan terbesar ada di Lampung, Sumatera Barat, dan Kalimantan Selatan. Dari sana jutaan ton bijih besi (malah) diekspor ke negara lain. Setelah diolah, bijih-bijih besi itu lalu kembali ke Indonesia sudah dalam rupa besi kasar batangan.

Saat ini, harga ekspor yang dinikmati Indonesia hanya Rp 300-500 per kilogram. Industri dalam negeri, seperti Krakatau Steel, lalu harus mengimpor produk besi kasarnya seharga Rp 6.000 per kilogram. "Nah, kami menawarkan bentuk teknologi yang sesuai untuk industri pengolahan bijih besi di Indonesia," ujar Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI Masbah Siregar.

Masbah menegaskan pabrik pengolahan bijih besi dengan teknologi blast furnace yang sederhana sangat cocok untuk Indonesia.

Pabrik bisa didirikan di beberapa daerah sekaligus, disesuaikan dengan lokasi tambang bijih besi yang memang lebih banyak tersebar dengan cadangan yang tidak sampai 10 juta ton.

"Jika pabriknya terpusat di suatu daerah, sementara tambangnya kecil-kecil dan tersebar di banyak wilayah lain di Indo nesia, ongkos pengangkutan akan membengkak," kata Masbah. Ini masalah besar karena otomatis akan memperpanjang waktu proses produksi, menambah biaya, dan menaikkan harga jual.

Dengan cadangan yang tidak banyak di suatu wilayah, masa operasi pabrik juga akan singkat karena apabila bahan bakar habis, pabrik otomatis akan berhenti beroperasi. "Kalau investasinya besar, sementara dalam waktu kurang, dari 10 tahun pabrik sudah harus ditutup, pengusaha yang akan rugi," katanya.

Pabrik skala besar juga memerlukan teknologi canggih untuk mempercepat dan memperbesar skala produksi. Teknologi canggih ini, selain prosesnya mahal, membutuhkan bahan baku tambahan, seperti proses produksi baja yang dilakukan Krakatau Steel yang memerlukan gas alam dalam proses produksi.

Dengan pabrik berbasis teknologi tanur tiup, seluruh masalah tersebut bisa dipecahkan. Bahan bakunya hampir 100 persen buatan dalam negeri dan investasi hanya sekitar Rp 20 miliar. Dengan kapasitas produksi yang mencapai 25 ton per hari, pabrik diperkirakan sudah akan balik modal dalam 6 bulan saja Yang tidak kalah penting, berdirinya pabrik di tiap daerah akan menyerap tenaga kerja secara merata. Karena mesin produksi dengan teknologi tanur tiup tidak boleh berhenti, pabrik akan berproduksi selama 24 jam dalam sehari, selama 365 hari dalam setahun. "Dengan pabrik yang terusmenerus berproduksi, pabrik memerlukan minimal 60 karyawan yang terbagi dalam tiga giliran kerja," katanya.

Kepala LIPI Umar Anggara Jenie berharap pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pihak swasta segera mengaplikasikan teknologi yang dikembangkan LIPI ini ke tahap komersialisasi. "Sekali lagi, LIPI menawarkan terobosan teknologi agar industri nasional mandiri dan tidak bergantung pada bahan baku impor," katanya.

Yang sudah tertarik adalah Krakatau Steel. Perusahaan yang berbasis di Cilegon, Banten, itu sudah meminang LJPI untuk penjajakan pendirian pabrik percontohan lain di luar Tanjung Bintang.

Sumber : Koran Tempo, Page : A12 

 

 Dilihat : 4719 kali