10 Maret 2008
Antidumping Baja Ancam Industri Hilir

Pengusaha mengeluhkan kebijakan penerapan bea masuk anti dumping baja HRC JAKARTA. Kisruh bea masuk antidumping (BMAD) baja lembaran canai panas (hot rolled coil/HRC) masih akan berlanjut. Produsen hilir baja mengaku khawatir keputusan pemerintah mengenakan BMAD untuk HRC itu justru akan menganggu pasokan baja jenis tersebut di dalam negeri.

Ketua III Gabungan Pabrik Seng Indonesia (Gapsi), Agus Salim mengatakan, jika pasokan baja HRC di dalam negeri kurang, secara otomatis harganya akan naik. "Akhirnya biaya produksi cold rolled, coil (CRC) atawa baja canai dingin yang jadi bahan baku kami, akan ikut naik. Itu akan memicu kenaikan biaya produksi di industri seng," kata Agus, Minggu (9/3).

Agus patut khawatir. Pasalnya, data Departemen Perindustrian (Depperin) menyebutkan, permintaan baja HRC dalam negeri per tahun mencapai enam juta ton. Namun produksi PT Krakatau Steel, sebagai pemasok utama baja jenis ini, hanya mencapai empat juta ton per tahun. Nah, sisa dua juta ton itulah yang harus diimpor. Dari total impor baja tersebut, sebanyak 900.000 ton berasal dari lima negara yang terkena BMAD, yakni India, China, Rusia, Taiwan, dan Thailand.

Sekadar mengingatkan, Menteri Keuangan (Menkeu) menerbitkan BMAD terhadap impor HRC dari lima negara tersebut melalui PMK Nomor 391/ PMK.011/2008 yang ditetapkan pada 28 Februari lalu. Menkeu Sri Mulyani menyatakan, keputusan itu dikeluarkan berdasar hasil pr: yelidikan akhir Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) yang mereka terbitkan pada 19 Desember 2007.

Penyelidikan itu menyebutkan, impor HRC dari lima negara itu terbukti dumping sehingga merugikan industri dalam negeri. Dalam rekomendasinya, KADI menetapkan BMAD kepada 12 eksportir produsen dari lima negara itu secara bervariasi dengan tarif besaran terendah 4,24% dan tertinggi 56,51%.Agus bilang, GAPSI akan mendorong produsen HRC di dalam negeri untuk mereview keputusan Menkeu itu.

Buah simalakama Direktur Jenderal Industri Logam Mesin Tekstil Aneka Depperin, Ansari Bukhari mengakui, industri pemakai HRC akan terkena dampak kebijakan BMAD itu. Kekurangan pasokan sangat mungkin terjadi karena produsen HRC dari negara yang terkena BMAD akan mengurangi pasokan ke Indonesia.

Sedangkan bagi lima negara itu, khususnya China, mengurangi pasokan ekspornya ke Indonesia tak jadi soal karena jumlahnya yang relatif kecil.
Ibarat buah simalakama, lanjut Ansari, keputusan mengenakan BMAD atau tidak, samasama menuai risiko. Apabila pemerintah tak mengenakan, bisa jadi akan menyebabkan kematian Krakatau Steel. Sebaliknya, bila dikenai BMAD, industri baja hilir akan terkena harga lebih mahal. Contohnya industri komponen otomotif.

Selama ini, industri tersebut telah mendapatkan fasilitas insentif penghapusan bea masuk balian baku komponen, khususnya HRC. Nah, impor bahan baku komponen itu kebanyakan dari China. Padahal ("hina adalah salah satu yang terkena BMAD. Dengan sendirinya, industri komponen otomotif yang mengimpor HRC dari China tetap akan dikenai BMAD. "Dengan pemberlakukan BMAD, inereka akan tetap membayar BM khusus untuk antidumping," ujar Ansari.

Sumber : Harian Kontan, Page : 13 Forwarded by Fmans

 Dilihat : 3431 kali