08 Maret 2008
Baja dari 5 negara dikenai BMAD

JAKARTA: Pemerintah akhirnya menetapkan pengenaan tarif bea masuk antidumping (BMAD) terhadap produk baja canai panas (hot rolled coife/HRC) impor dari lima negara.Keputusan itu tertuang dalam Permenkeu No. 39.1/PMK.011/2008 tertanggal 28 Februari 2008.
Lima negara eksportir baja canai panas yang dikenai sanksi BMAD yakni China, India, Rusia, Taiwan, dan Thailand.

Baja canai panas merupakan jenis baja intermediate (antara) yang banyak digunakan di sektor konstruksi di samping dapat dioleh lebih lanjut menjadi cold rolled coils (CRC/baja canai dingin) yang biasa digunakan untuk membuat bodi kulkas dan produk elektronik lainnya.

Di dalam Permenkeu yang ditandatangani Menkeu Sri Mulyani tersebut disebutkan bahwa berdasarkan hasil penyelidikan akhir Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) yang dikeluarkan pada 19 Desember 2007, baja canai panas dari lima negara itu terbukti menerapkan harga dumping sehingga merugikan industri baja di dalam negeri.

KADI juga menemukan adanya sebab akibat (causal link) antara praktik dumping tersebut dan kerugian yang dialami industri baja lokal, khususnya produsen HRC.

"Kita harus menghormati keputusan tersebut karena investigasi KADI dilakukan secara independen dan keputusan Menkeu tersebut juga sudah mempertimbangkan banyak as: pek," ujar Irvan Kamal H, Direktur Pemasaran PT Krakatau Steel, kemarin.

Menurut dia, pengenaan BMAD tersebut tidak akan membuat impor baja terhenti mengingat yang dikenai sanksi tersebut hanya lima negara, sedangkan negara penghasil HRC tak kurang dari 80 negara, seperti Malaysia, Filipina, Jepang, Ukraina, dan Brasil, yang bisa menjadi sumber bahan baku bagi industri baja Harga internasional Sumber Bisnis dari salah satu perusahaan baja hilir mengatakan harga baja internasional (FOB) saat ini telah mencapai US$900 per ton. Dengan skala harga tersebut, HRC dumping yang masuk ke Indonesia diprediksi akan menembus di atas US$1,000 ton.

"Skala harga tersebut bukanlah sebuah angka yang ekonomis bagi industri hilir baja nasional," ungkap sumber itu, kemarin.

Shiresh Sharma, General Manager Pemasaran PT Essar Indonesia anak usaha Essar Steel Ltd enggan berkomentar meskipun keputusan tersebut dipastikan akan mempersulit Essar Indonesia mendapatkan HRC murah dari perusahaan induknya, Essar Steel, India, yang dikenai BMAD sebesar 12,95%. (16) (yusuf.waluyo@bisnis.co.id)

Sumber :  Bisnis Indonesia, Page : 3  Forwarded by Fmans

 Dilihat : 2878 kali