06 Maret 2008
Kalisco Bangun Pabrik BjLS US$ 65 Juta

Oleh Andryanto Suwismo  JAKARTA-Produsen baja nasional, PT Kalimantan Steel (Kalisco), merealisasikan pembangunan pabrik baru yang akan memproduksi baja lapis seng (BjLS) dengan kapasitas 24 ribu ton per tahun di Provinsi Riau. Pabrik BjLS yang akan beroperasi pada April 2008 itu menelan investasi sekitar US$ 65 juta.

Direktur Operasional Kalisco Helena Arianti menjelaskan, pembangunan pabrik baru di Riau itu merupakan upaya perseroan memperkuat penetrasi pasar di Sumatera, khususnya Riau. Terlebih lagi, saat ini Kalisco menjadi satu-satunya produsen BjLS di Pulau Sumatera. "Masyarakat di Sumatera gemar memakai genteng dari seng. Itu adalah potensi pasar yang cukup besar bagi industri BjLS dalam negeri," kata Helena di Jakarta, Rabu (5/3).

Kondisi itu, menurut dia, didukung stabilitas daya beli masyarakat di Sumatera, khususnya di daerah penghasil komoditas primer, seperti minyak sawit dan cokelat. "Penyerapan pasar BjLS di Sumatera terus meningkat," tuturnya.

Dia menerangkan, proses pendirian pabrik baru berkapasitas 2.000 ton per bulan itu sudah mulai dilakukan sejak 2006. Dengan berdirinya pabrik baru itu, Kalisco mampu meningkatkan produksi dari 4.000 ton per bulan yang dihasilkan dua pabrik di Pontianak, Kalimantan Barat, dan di Surabaya, Jawa Timur, menjadi 6.000 ton per bulan.

Menurut Hejena, keberadaan pabrik di Riau itu sekaligus akan menjadi penghambat masuknya produk BjLS impor yang nonstandar. "Selama ini Riau adalah pintu masuk impor BjLS nonstandar. Nah, kami yakin para importir pedagang yang memasukkan barang nonstandar itu akan ngeper dengan berdirinya pabrik kami di Riau. Apalagi kami selama ini memproduksi sesuai SNI," papar Helena.

Secara terpisah, Menteri Perindustrian (Menperin) Fahmi Idris mengatakan, kebijakan pembangunan industri nasional (KPIN) menempatkan industri baja sebagai salah satu industri strategis. Pasalnya, industri tersebut sangat diperlukan untuk menunjang sektor industri lain, seperti infrastruktur, transportasi, serta minyak dan gas humi. "Salah satu indikator keberhasilan pengembangan industri baja adalah meningkatnya nilai tambah dan daya saing produk baja," kata Fahmi dalam surat yang ditujukan kepada Gubernur Riau untuk mendukung pembangunan pabrik baru Kalisco.

Revisi SNI Baja Sementara itu, Direktur Industri Logam Depperin I Putu Suryawirawan menerangkan, pemerintah akan menerbitkan revisi Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib untuk baja tulangan beton (BTB) dan baja lembaran seng (BjLS). Produsen lokal maupun asing diberi waktu enam bulan untuk menyesuaikan produksinya sesuai standar itu.

Dia menerangkan, revisi SNI tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) Nomor 6 dan 7 Tahun 2008 tentang Pemberlakuan SNI Wajib BTB dan BjLS, yang ditandatangani Menperin Fahmi Idris tertanggal 13 Februari 2008. Keluarnya peraturan tersebut sekaligus merevisi aturan terkait SNT wajib BTB dan BjLS dalam Surat Keputusan Menperin No 256/1979, 131/1980, dan 287/1980.

Menurut Putu, revisi SNI tersebut bertujuan untuk mempersempit peluang adanya produk baja tulangan beton dan BjLS nonstandar yang dikenal dengan istilah besi beton banci. "Seb'ab, sejak 1984 standar yang dimaksud belum pernah diadakan revisi. Selama ini banyak yang mengatakan besi beton banci, nanti tidak ada lagi setelah aturan ini dikeluarkan," katanya usai memberikan sosialisasi revisi SNI wajib itu.

Dia menjelaskan, pemberlakuan SNI wajib akan dilaksanakan paling lambat Agustus 2008 dan tidak pandang bulu, baik produsen lokal maupun asing. Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengawasan Barang Beredar dan Jasa Departemen Perdagangan akan melakukan pengawasan terhadaj)|produkproduk BTB dan BjLS yang beredar di pasar. Sementara Depperin akan menyusun petunjuk teknis pengawasan di lapangan, memperbaiki infrastruktur produksi, dan menghabiskan stok BTB dan BjLS yang masih ada di pasar atau pabrik.
"Supaya tidak ada lagi barang yang tidak sesuai SNI ketika kebijakan itu diterapkan enam bulan mendatang," tuturnya.

Menurut data Gabungan Pabrik Seng Indonesia (Gapsi), sepanjang 2007 impor BjLS nonstandar dengan ketebalan di bawah 0,2 milimeter melonjak 33,3% dibandingkan 2006, yakni dari 15.000 ton menjadi 200.000 ton. Akibat kenaikan biaya produksi, harga seng baja lokal telah menembus Rp35.000 per lembar, tapi produk impor sejenis lebih murah 20%.

Sumber: Investor Daily Indonesia, Page : 22 

 Dilihat : 5274 kali