05 Maret 2008
Terus Berproduksi Rugi, Berhenti Lebih Rugi

JAKARTA. Dilematis. Begitulah persoalan dihadapan produsen baja lapis seng (BjLS) lokal saat ini. Kalau mereka tetap berproduksi, hasilnya rugi. Harga jual tak mampu mengimbangi harga pasar. Namun menghentikan produksi juga sama-sama rugi lantaran harus menanggung biaya overhead pabrik yang rutin dibayar setiap bulan.

"Sekarang ini kami terpaksa memilih potensi kerugian yang paling minimal. Pilihan pun jatuh pada keputusan tetap melakukan produksi walau pun merugi," kata Ketua III Gabungan Pabrik Seng Indonesia (Gapsi) Agus Salim, Selasa (4/2).

Menurut Agus, para produsen BjLS rugi menjual produknya karena harga jual produk BjLS tak mampu mengimbangi lonjakan harga bahan baku. Saat ini, PT Krakatau Steel selaku pemasok sudah menaikkan harga bahan baku baja canai dingin atau cold rolled coils (CRC) ukuran 0,2 mm x 3 feet x 6 feet menjadi Rp 10.000 per kg. Ada pun harganya di pasar dunia sudah mencapai US$ 860 per ton.

Melihat kondisi itu, pilihan menaikkan harga jual merupakan konsekuensi logis yang dipilih kalangan produsen BjLS. Pasalnya, bahan baku CRC menempati 70% dari total struktur biaya produksi. "Masalahnya, daya beli konsumen lemah. Agen pun tak mau menaikkan harga, akibatnya pabrik tak bisa sesuaikan harga," ujar Agus.

Mestinya, Agus bilang, saat ini produsen BjLS sudah menjual produknya dengan harga Rp 37.000 per lembar. Tapi karena pasar lokal tak mampu menyerap, mereka pun terpaksa menjual dengan harga lama, yakni Rp 33.000 per lembar.

Kondisi makin berat karena serbuan impor produk murah sejenis asal China. Agus menuturkan, apabila kondisi itu terus dibiarkan, maka dalam waktu dekat 17 perusahaan BjLS nasional yang tergabung dalam Gapsi terancam bangkrut,

Kini yang dibutuhkan produsen BjLS lokal saat ini, kata Agus, adalah perlindungan pasar dalam negeri. Caranya, dengan harmonisasi tarif plus tindakan safe guard (pengamanan perdagangan).

Sumber:  Harian Kontan, Page : 13 

 Dilihat : 4008 kali