05 Maret 2008
Produsen BjLS Terancam

JAKARTA (SINDO)Sebanyak 17 produsen baja lapis seng (BjLS) yang tergabung dalam Gabungan Pabrik Seng Indonesia (Gapsi) terancam bangkrut.

Sebab, impor produk sejenis dari China mulai membanjir. Kebijakan China yang memacu ekspor produk hilir baja dengan menurunkan tarif pajak ekspor menyebabkan ekspor baja dari negara tersebut mulai membanjiri negara-negara yang memiliki tarif bea masuk rendah seperti Amerika Latin, Afrika, dan kawasan Asia, termasuk Indonesia. "Dampak dari kebijakan China itu mulai terlihat. Satu bulan lalu impor BjLS China mulai masuk ke pasar domestik," ujar Ketua IH Gapsi Agus Salim di Jakarta kemarin.

Agus menuturkan, bila kondisi itu terus dibiarkan, dalam waktu dekat 17 produsen BjLS nasional yang tergabung dalam Gapsi terancam bangkrut. Saat ini, produsen BjLS membutuhkan perlindungan pasar da

lam negeri. Sebab, tekanan yang dialami produsen BjLS berlanjut pada ancaman merugi karena harga jual produk lokal tak mampu mengimbangi harga produk impor sejenis.

Saat ini, lanjut Agus, para produsen BjLS lokal dihadapkan pada dua pilihan pahit, yaitu tetap melakukan aktivitas produksi tapi merugi atau menghentikan produksi dan tetap merugi pula karena haras menanggung biaya overhead pabrik seperti pemanasan ruang pabrik, penerangan, penyusutan pabrik dan mesin-mesin. "Sekarang ini kami terpaksa memilih potensi kerugian yang paling minimal. Pilihan pun jatuh pada keputusan untuk tetap melakukan produksi walau merugi," papar Agus.
Menurut pengakuan Agus, para produsen BjLS tak mam

pu mengimbangi harga produk impor karena lonjakan harga bahan baku. Saat ini, PT Krakatau Steel selaku pemasok bahan baku baja telah menaikkan harga bahan baku baja canai dingin (cold rolled coilslCRC) ukuran 0,2 mm x 3 feet x 6 feet menjadi RplO.000/ kg. Sementara itu, harga bahan baku di pasar dunia sudah mencapai USD860/ton. Dalam kondisi ini, menurut dia, opsi menaikkan harga jual merupakan konsekuensi logis yang dipilih kalangan produsen BjLS. Pasalnya, bahan baku CRC menempati 70% dari total struktur biaya produksi.

"Tapi masalahnya sekarang ini daya beli kosumen lemah. Agen pun tak mau menaikkan harga sehingga pabrik juga tak bisa menyesuaikan harga," tuturnya. Mestinya, menurut Agus, saat ini produsen BjLS menjual produknya dengan harga Rp37.000 per lembar. Tapi karena tak bisa diserap pasar domestik, produsen terpaksa menjual dengan harga lama, yakni sekitar Rp33.000-an per lembar.

Lebih jauh Agus mengatakan, pemerintah harus melakukan perlindungan pasar dalam negeri seperti harmonisasi tarif plus tindakan safeguard. Agus menilai harmonisasi tarif penting untuk membantu produsen mengurangi lonjakan biaya produksi. Idealnya, harmonisasi tarif itu mencakup pengenaan bea masuk baja canai panas (hot rolled coiZs/HRC) 5%, CRC 10%, dan BjLS 15%.
"Masalahnya, lantaran saat ini bea masuk HRC 0%,
untuk CRC itu harus turun dari posisi saat ini sebesar 10% menjadi 2-5%," imbuh Agus.

Terkait tindakan safeguard, dia mengusulkan agar pemerintah menaikkan bea masuk BjLS dari posisi saat ini sebesar 12,5% menjadi 20%. "Safeguard penting guna mengimbangi kebijakan China yang cenderung menurunkan tarif pajak ekspor produk baja hilirnya," cetusnya.

Sebelumnya, Dirjen Industri Logam, Mesin,Tekstil, dan Aneka Departemen Perindustrian Ansari Bukhari memang pernah menegaskan bahwa pemerintah akan melakukan antisipasi bila kebijakan China tersebut menekan industri dalam negeri.

"Kami akan melakukan tindakan cepat, cuma syaratnya harus ada data pendukung yang valid yang menyebutkan bahwa lonjakan impor China itu sudah menyebabkan industri dalam negeri injuries," paparnya.
(agung kurniawan)

Sumber: Harian Seputar Indonesia, Page : 19 

 Dilihat : 4341 kali