03 Maret 2008
China Menguasai Pasar Paku & Kawat

Menurut perhitungan Ikatan Pabrik Paku Kawat Indonesia (Ippaki), impor rata-rata bulanan pada 2007 hanya 200 ton, tapi kini melambung jadi 700 ton per bulan. Sekitar 500 ton di antaranya masuk secara resmi, sisanya lewat penyelundupan. Lonjakan impor baja hilir itu terdiri dari kawat beton, kawat ikat, dan paku (long product)

Ketua Umum Ippaki, Ario Setiantoro mengatakan, lonjakan impor terjadi sejak produsen lokal menaikkan hargajual awal 2008 ini. Keputusan menaikkan harga .jual itu menyusul kian tingginya harga wife rood (ka wat baja). Ario bilang, PT Krakatau Steel (KS) selaku pemasok telah menaikkan harga jual wire rood dari Rp 7.000 per kg jadi Rp 9.100 per kg.

Perusahaan lokal kolaps Keputusan KS itu dilakukan seiring melonjaknya harga billet yang menjadi bahan baku wire rood di pasar dunia hingga US$ 800 per ton. Padahal, harga pada akhir 2007 masih US$ 600 per ton. "Akhirnya kami pun terpaksa menaikkan harga jual kawat beton, kawat ikat, dan paku antara Rp 10.000 hingga Rp 12.000 per kg," ujar Ario, Minggu (2/3). Namun, keputusan pabrikan lokal menaikkan hargajual itu dimanfaatkan importir untuk memasukkan produk impor berharga murah dari China.

Masuknya produk impor murah itu membuat konsumen pasar domestik berpaling dari produk lokal. Alhasil, produsen lokal kolaps. Dari semula 35 produsen di bidang ini, kini tinggal 25 perusahaan. Itupun sudah menurunkan kapasitas terpasang hingga di bawah 50%.

Menurut, Ario, industri baja hilir China yang memiliki kapasitas besar cenderung banting harga almi menjual secara dumping terselubung ke berbagai negara, seperti Indonesia. Pemerintah China melakukan praktek itu dengan memproteksi bahan baku billet dan wire rood dengan mengenakan pungutan ekspor (PE) tinggi, masing-masing 20% dan 15%.

Sebaliknya, bila eksportirnya mengekspor dalam bentuk jadi seperti kawat beton, kawat ikat, dan paku, justru dapat diskon pajak dan cuma membayar 5%. Direktur Jenderal Industri Logam Mesin Tekstil Aneka Departemen Perindustrian, Ansari Bukhari mengatakan, kebijakan China itu sah-sah saja. Namun, bila Ippaki melihat ada indikasi dumping, Ansari meminta mereka melaporkan hal itu kepada Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) agar menginvestigasi.

Sumber :

 Dilihat : 3326 kali