29 Februari 2008
Antam-BHP Investasi Nikel US$ 4 Miliar

JAKARTA-PT Aneka Tambang Tbk bekerja sama dengan perusahaan tambang Australia BHP Billiton menginvestasikan dana sedikitnya US$ 4 miliar atau sekitar Rp 36 triliun untuk menggarap tambang nikel laterit di Pulau Halmahera, Maluku Utara, dan Pulau Gag di Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Muhammad Lutfi .mengatakan, saat ini kedua belah pihak memasuki tahapan negosiasi kontrak karya dengan DPR dan pemerintah. Sesuai kesepakatan, Antam dan BHP masingmasing memiliki 50% saham pada kedua megaproyek itu.

"Karena Indonesia sudah punya 50% saham, nanti tidak ada lagi masalah divestasi seperti kontrak karya generasi I hingga generasi VII," ujar Lutfi usai mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pertemuan dengan Presiden Direktur Stainless Steel Materials BHP Billiton Jimmy Wilson, Presiden Direktur PT BHP Billiton Indonesia Edwin Gerungan, dan Presiden Direktur PT Aneka Tambang Tbk (Antam) Dedi Aditya Sumanegara di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Kamis (28/2). Hadir pula, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro dan Mensesneg Hatta Haj asa.

Antam dan BHP telah menandatangani head of agreement (HoA) kedua proyek tersebut saat acara Asia Pacific Economic Conference (APEC) pada 13 Februari 2007.

Lutfi menegaskan, investasi tambang nikel di Halmahera dan Papua memiliki dampak ganda bagi PT Aneka Tambang Tbk (Antam). Selain kinerja perusahaan meningkat, kesepakatan pengembangan usaha tambang nikel itu juga dapat' mengangkat pamor Antam sebagai perusahaan tambang berskala global.

Direktur Utama PT Aneka Tambang Tbk Dedi Aditya Sumanagara saat ditanya mengenai investasi itu enggan berkomentar. "Maaf, saya tidak bisa berkomentar. No comment," ujar Dedi.

Sebelumnya, Dedi pernah mengatakan, pihaknya bersama BHP Billiton akan membentuk aliansi strategis. Sebab, kerja sama dengan perusahaan tambang asal Australia itu merupakan bagian dari strategi perseroan untuk masuk ke sektor hilir pengolahan logam.

Dia menjelaskan, untuk tambang nikel di Pulau Gag tersebut, hingga saat ini belum bisa dijalankan. Alasannya, eksploitasi tambang Pulau Gag harus hati-hati. "Ini adalah Pulau Tiga Raja dan banyak hal yang sensitif, belum lagi masalah lingkungan yang harus segera diselesaikan," kata Dedi beberapa waktu lalu.

Lutfi mengatakan, saat ini Indonesia memiliki sejumlah perusahaan tambang yang dapat bersaing di tingkat global. Selain Antam, perusahaan lain seperti PT Medco Energi Internasional Tbk, PT Pertamina, dan PT Bumi Resources Tbk juga menjadi pemain tambang dunia.

Untuk itu, Lutfi optimistis dari segi permodalan, Antam mampu membayar nilai saham yang akan dimilikinya pada perusahaan patungan tersebut. Ia mengaku, Antam sebagai perusahaan terbuka yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan BHP Billiton yang sahamnya diperdagangkan di Bursa Efek Australia sama-sama memiliki kinerja yang baik.

Namun, ia mengaku belum dapat memastikan apakah investasi Antam-BHP Billiton akan diatur berdasarkan Undang-Undang (UU) Minerba yang baru. "Kita akan mengikuti apakah UU Minerba yang baru sudah ada atau belum," ujar dia.

Lutfi enggan memerinci, saat ditanya mengenai berapa besar cadangan nikel yang ada di dua lokasi penambangan itu. "Sangat luar biasa banyak. Behim dapat disebutkan baik cadangan maupun nilai inves, tasinya. Tapi, dalam pertemuan dengan Bapak Presiden disebutkan bahwa cadangan dapat digunakan sekitar 50 tahun. Proyek ini berskala raksasa," kata dia.

Cadangan Nikel Menurut catatan Investor Daily, tambang nikel di Pulau Gag, memiliki cadangan sekitar 240 juta weight metric ton (WMT). Kadar nikel 1,35% dan kobal 0,08%. Sementara itu di Pulau Halmahera terdapat beberapa wilayah tambang, seperti Tanjung Buli (21.500 WMT), Gebe (1.500 WMT), Pakai (13.500 WMT), dan Monorpo (20.000 WMT).

Sejumlah kalangan memprediksi Indonesia memiliki cadangan nikel hingga 3,2 miliar ton atau lima persen dari cadangan nikel seluruh dunia. Selama ini nikel diolah oleh dua perusahaan di Indonesia, yaitu PT Aneka Tambang yang mengolah nikel menjadi feronikel, dan PT Inco yang menghasilkan olahan awal biji nikel menjadi bahan baku untuk pengolahan nikel selanjutnya.

Sementara itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan respons positif terhadap rencana investasi BHP Billiton-Antam di Maluku Utara dan Papua Barat. Bahkan, Presiden menginstruksikan jajaran terkait agar terlibat dalam pembangunan pertambangan nikel terbesar itu.

Menurut Lutfi, pada kesempatan itu Presiden menekankan kepada Antam-BHP Billiton mengenai penting pelestarian lingkungan hidup. Bahkan, Kepala Negara secara eksplisit meminta kedua perusahaan itu menjaga kelestarian lingkungan dan menanam kembali pepohonan yang ditebang untuk dijadikan sebagai areal pertambangan.

"BHP Billiton-Antam telah meyakinkan Presiden bahwa di atas tanah bekas galian akan ditanami pepohonan setelah selesai ditambang. Mereka akan mengembalikan top soil, tanah humus terbaik di daerah pertambangan," jelas dia.

Tunggu Kepastian Sementara itu, sejumlah pelaku pasar menunggu kepastian dari rencana korporasi PT Aneka Tambang Tbk dengan BHP Billiton untuk menggarap tambang nikel di Papua. Sebab, kerja sama penambangan nikel oleh kedua pihak di Maluku belum terealisasi sejak dua tahun terakhir.

Pelaku pasar saham menganggap Antam terlalu banyak mengincar tambang emas, nikel, dan komoditas tambang lainnya. "Antam sebaiknya memprioritaskan satu atau dua tambang, dalam waktu dekat," kata Kepala Riset Recapital Securities Poltak Hotradero.

Analis BNI Securities Norico Gaman juga mempertanyakan keseriusan Antam mengembangkan tambang nikel di Papua dan Maluku Utara. "Saya rasa probabilitasnya sekitar 70%. Sementara itu, rencana Antam untuk membeli saham divestasi PT Newmont, Freeport, dan tambang emas lainnya masih alot, meskipun didukung pemerintah," kata dia.

Namun, kata Norico, pelaku pasar saat ini masih apresiasi terhadap saham Antam, sehingga cenderung menguat. 'Tapi, kalau tidak ada yang terealisasi sampai semester I2008, saham Antam bakal kehilangan kepercayaan investor, sehingga bakal berbalik arah dengan kecenderungan menurun," jelas Norico.

Mengenai rencana BHP Billiton menggandeng Antam untuk tambang nikel di Papua, dia mengatakan bahwa rencana itu kemungkinan dapat berpengaruh terhadap kinerja Antam dalam 4-5 tahun mendatang.

Sumber : Investor Daily Indonesia, Page : 1

 Dilihat : 4647 kali