27 Februari 2008
CATATAN PERJALANAN

Tanggal 24-26 Februari 2008 Wakil Presiden M jusuf Kalla bersama 35 anggota rombongan mengadakan perjalanan ke Korea Selatan dan Jepang. Sebanyak 13 wartawan diikutkan, tetapi diberangkatkan dengan pesawat terbang komersial, tidak dalam satu pesawat dengan Wapres dan rombongan inti.

Dalam jumpa pers khusus di Seoul, Korsel, Senin (25/2) sore, yang diwarnai dengan hujan salju, Wapres meminta maaf sebab tidak bisa satu pesawat dengan wartawan. "Nanti kalau kita punya pesawat besar, baru bisa satu pesawat," ujarnya. Bagi wartawan, tidak satu pesawat dengan Wapres bukan masalah karena wartawan selalu punya akses ke Wapres.

Tujuan utama perjalanan kali ini adalah mewakili Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghadiri pelantikan presiden Korsel ke-17, Lee Myungbak, di lapangan terbuka di depan gedung parlemen. Hari pertama tiba di Seoul, Wapres langsung mengadakan temu muka dengan warga Indonesia di negeri itu.

Di depan warga Indonesia di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Seoul, Kalla dengan gayanya, yang membikin orang terhibur, berbicara soal kemacetan jalan di Jakarta, listrik di dalam negeri yang sering padam, pemberantasan korupsi, hingga perlunya tenaga kerja Indonesia di luar negeri kawin dengan orang di negeri maju. "Baik juga perkawinan itu. Sinetron kita ' membutuhkan pemain hasil perkawinan seperti itu," ujar Kalla dengan ringan.

Mendengar ucapan itu, Sinta, staf lokal KBRI tersipu-sipu. Wanita asal Lampung itu sudah dua tahun tinggal di Seoul sebab kawin dengan pria Korsel. "Kaum pria Seoul memang gantengganteng. Kalau di Pyongyang, Korea Utara, kaum wanitanya cantik-cantik karena berwajah asli," ujarnya.

Pererat hubungan Menurut Kalla, perjalanan kali ini juga untuk mempererat hubungan Indonesia dengan negara Asia bagian timur, seperti Korea, Jepang, dan China. Ia juga ingin mengubah kebiasaan yang tertanam dalam hubungan Jakarta dengan negara maju.

"Sekarang kita tidak mau minta-minta," ujar Kalla, sambil menjulurkan telapak tangannya seperti orang meminta-minta di tepian jalan raya di Jakarta.

Kalla mengatakan, dia datang ke negeri orang untuk menjelaskan kemampuan Indonesia. "Tetapi, tentu juga saya jelaskan tentang kekurangan kita," ujarnya.

Yang dimaksud kemampuan Indonesia adalah apa yang dimiliki Indonesia bila harus bekerja sama dengan pihak asing. Kalau pihak asing mau investasi ke Indonesia, perlu dijelaskan, setiap pulau di Indonesia mempunyai kebutuhan berbeda-beda. Di Kalimantan ada sumber pertambangan dan pertanian, di Jawa ada seratus juta lebih orang sehingga perlu pabrik-pabrik besar. Kemampuan seperti ini yang disodorkan Kalla kepada pengusaha yang ditemuinya di Seoul, Osaka, dan Tokyo.

Kalla juga mau menunjukkan 4ari lawatannya ini, diplomasi tanpa dibarengi dengan kerja sama ekonomi tidak menghasilkan sesuatu yang besar.

Untuk meningkatkan kerja sama ekonomi tanpa harus "minta-minta", Kalla mengajak beberapa pengusaha dalam perjalanan ini, antara lain Sofjan Wanandi dan Halim Kalla. Dalam perjalanan di Jepang, berj gabung pula dengan rombongan itu Presiden Direktur PT National Gobel Rachmat Gobel dan Direktur PT Nusacipta Realtindo. Direktur Utama Krakatau Steel Fazwar Bujang juga ikut sejak dari Jakarta. Perjalanan ini juga dilengkapi keikutsertaan Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Arifin dan Wali Kota Makassar I Arif Sirajuddin.

Kalla mengatakan, kemajuan negara bukan karena kultur, melainkan kemauan dan kerja keras. Korsel dan Korea Utara memiliki kultur yang sama, tetapi yang maju adalah Korsel. Itu artinya Indonesia yang punya banyak suku dengan kebiasaan masing-masing bukan penghambat bagi kemajuan menjadi setaraf dengan Korsel, Jepang, dan China.

Semoga perjalanan Kalla yang disertai Ny Mufidah Kalla ini merupakan realisasi dari kemauan keras bangsa Indonesia untuk maju dan menjadi setaraf dengan negara lain. Paling tidak, dengan Malaysia, tetangga yang terdekat.

Sumber : Kompas, Page : 2 

 Dilihat : 3152 kali