26 Februari 2008
Skema Bea Masuk Baja Jepang Disepakati

JAKARTA  Skema bea masuk bahari baku baja khusus dari Jepang sebesar nol persen telah mendapat titik temu. Pihak Jepang menyetujui permintaan Indonesia mengenai adanya persyaratan verifikasi data importir. "Secara prinsip pemerintah Jepang telah setuju," ujar Direktur Jenderal Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka Ansari Bukhari kemarin.

Pembahasan skema bea masuk baja khusus dari Jepang sebesar nol persen bagian dari tindak lanjut kesepakatan Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement. Selain menyetujui persyaratan verifikasi data importir, pihak Jepang menyepakati hanya produsen yang berhak impor baja khusus. "Tujuannya agar baja khusus ini tak diperdagangkan ke sumber lain," kata Ansari. Biaya verifikasi akan dibiayai oleh para importir. Selama ini bea masuk baja khusus di kisaran 7,5-10 persen.

Indonesia dan Jepang telah menandatangani economic partnership agreement sejak Agustus tahun lalu. Sekitar 2.000 pos tarif bea masuk yang menjadi nol telah disepakati kedua belah pihak. Baja merupakan salah satu pengecualian,
kata Ansari, karena pemerintah Indonesia ingin melindungi produsen baja dalam negeri.

Bea masuk baja khusus dibahas dalam mekanisme user specific duty free scheme (USDFS). Jepang memanfaatkan mekanisme itu untuk mendorong kapasitas industri Jepang di Indonesia. Adapun pemerintah Indonesia akan memanfaatkan mekanisme manufacturing industrial development center atas kompensasi bea masuk baja khusus yang menjadi nol. "Kami akan mendapat transfer keahlian dari sistem pengolahan bahan baku baja Jepang yang menggunakan teknologi bios," kata Ansari.

Baja khusus terutama digunakan oleh industri sektor otomotif dan elektronik. Seperti diketahui, investor Jepang menguasai industri otomotif di Indonesia. Baja khusus terutama diolah untuk rangka mesin. "Produsen dalam negeri belum mampu membuat baja dengan kualitas seperti ini," tuturnya.Kebutuhan baja khusus dalam satu tahun sebanyak 1-1,5 juta ton dari total impor nasional baja sebanyak 2 juta ton.
mm

Sumber : Koran Tempo, Page : B2 

 Dilihat : 3294 kali