26 Februari 2008
BM Baja Khusus Dihilangkan

JAKARTA (SINDO)Pada Mei mendatang pemerintah akan menghilangkan tarif bea masuk (BM) impor baja khusus (special steel) dari sebelumnya 7,5-10%.

Penghapusan ini terkait dengan kerja sama ekonomi Indonesia dengan Jepang (Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement). "Pembebasan bea masuk ini hanya diperuntukkan bagi jenis baja yang tidak diproduksi di dalam negeri yang masuk dalam kategori special steel," ujar Dirjen Industri Logam, Mesin,Tekstil, dan Aneka Departemen Perindustrian (Depperin) Ansari Bukhari di Jakarta kemarin.

Untuk perjanjian ini, Ansari mengatakan Indonesia meminta impor produk baja khusus, yang banyak digunakan industri automotif dan elektronik itu, wajib diverifikasi. Program awal implementasi dari economic partnership agreement (EPA) antara Indonesia dan Jepang ditargetkan dimulai pada Mei 2008. Ansari mengungkapkan hal itu setelah pada pekan lalu melakukan perundingan lanjutan EPA di Tokyo, Jepang.

Dia menambahkan, setiap tahun Indonesia akan mengimpor sekitar 1-1,5 juta ton baja khusus untuk mendukung perkembangan industri automotif dan elektronik nasional. "Jenis baja ini belum mampu diproduksi di dalam negeri, seperti blok mesin mobil, bodi mobil, piston, dan peralatan elektronik," jelasnya.

Dalam skema EPA,produk baja khusus akan dikeluarkan dalam program awal liberalisasi perdagangan Indonesia-Jepang. Jenis ba j a khusus akan dimasukkan dalam fasilitas khusus yang dikenal sebagai user specific duty free scheme (USDFS), yaitu skema pembebasan BM hanya untuk pengguna yang spesifik, dalam hal ini industri Jepang yang menggunakan langsung produk tersebut bukan untuk dipasarkan di dalam negeri.

Ansari menerangkan, Jepang sebelumnya tak bersedia menerapkan verifikasi ba j a khusus yang diekspor ke Indonesia. Keberatan tersebut karena proses verifikasi membutuhkan biaya tersendiri. "Biaya verifikasi akan ditanggung importir produsen," tuturnya.

Saat ditanya impor baja khusus yang bebas BM akan melanggengkan dominasi prinsipal automotif Jepang di Tanah Air, Ansari menyatakan itu yang diinginkan Pemerintahlndonesia. "Pembebasan BM baja khusus akan memicu investasi lebih besar dari Jepang di sektor hilir, seperti industri mobil, alat berat, dan motor," paparnya.

Jika impor baja khusus akan bebas BM, jenis baja yang telah mampu diproduksi di dalam negeri masih diproteksi pemerintah. Indonesia meminta Jepang mengecualikan produk baja yang mampu diproduksi di Tanah Air dalam skema penurunan tarif BM. "Tujuannya agar industri baja nasional dapat berkembang," ucapnya.

Kesepakatan EPA Indonesia-Jepang telah ditandatangani masing-masing kepala negara pada Agustus 2007. Saat ini implementasi kerja sama ekonomi itu masih dalam proses ratifikasi di parlemen kedua negara. Sekitar 2.000 pos tarif akan bebas BM secara bertahap pada program awal kesepakatan EPA.

Di tempat terpisah, Presiden Direktur PTToyota Astra Motor (TAM) Johnny Dermawan mengaku hingga saat ini masih belum tahu perkembangan perjanjian tersebut. Meski begitu, dia menyambut positif keputusan itu. Pelaksanaan ker j a sama ini merupakan realisasi dari kawasan perdagangan bebas khusus antara Indonesia dan Jepang.
(agung kurniawan)

Sumber : Harian Seputar Indonesia, Page : 20 

 Dilihat : 3337 kali