26 Februari 2008
RI minta Jepang beri akses pasar 13 jenis produk

Bisnis Indonesia JAKARTA: Pemerintah serius mematangkan rencana penghapusan tarif bea masuk (BM) komoditas baja khusus {special steel) untuk mendorong arus perdagangan baja Indonesia Jepang dalam kerangka Economic Partnership Agreement (EPA).

Penghapusan BM tersebut akan direalisasikan antara Mei-Juni tahun ini setelah mendapatkan persetujuan dari parlemen kedua negara. Saat ini, sudah ada sekitar 2.000 pos tarif yang telah mendapatkan pembebasan BM dalam kerangka EPA.

Dirjen Industri Xogam Mesin Tekstil dan Aneka Departemen Perindustrian Ansari Bukhari menjelaskan penghapusan BM baja khusus dikeluarkan setelah Jepang memintanya secara resmi kepada pemerintah Indonesia.

Diakuinya, penghapusan BM special steel tersebut keluar dari agenda general rule EPA. Namun demikian, pemerintah mengusulkan penghapusan tersebut masuk dalam skema USFDS (users specific free duty scheme).

"Prinsipnya, penghapusan BM komoditas baja diberikan hanya untuk jenis baja yang tidak diproduksi di dalam negeri, dan hanya berlaku untuk special steel," kata Ansari, kemarin. Ansari termasuk dalam delegasi Indonesia pada perundingan konsep USFDS-EPA di Tokyo, minggu lalu.
Hasil negosiasi di Tokyo itu menyepakati bahwa dalam USFDS, pemerintah Indonesia mensyaratkan impor komoditas baja khusus dengan fasilitas BM 0% dari Jepang harus diverifikasi terlebih dahulu oleh perusahaan jasa inspeksi independen bersama departemen teknis.
Tujuannya untuk menghindari terjadinya perdagangan baja khusus di dalam negeri.

Di dalam prosedurnya, lanjut Ansari, hanya importir produsen terdaftar di dalam negeri yang bisa memanfaatkan komoditas tersebut, seperti sektor otomotif, elektronik, dan logam. Baja khusus tersebut harus sepenuhnya digunakan sebagai bahan baku produksi dan tidak untuk diperdagangkan.

Saat ini, tarif BM baja khusus yang diberlakukan bagi negara-negara lain (most favourable nations/MFN) ditetapkan sebesar 5% hingga 10%.

Special steel atau komoditas baja khusus merupakan produk baja hilir yang tahan terhadap titik didih hingga 1.500" C dan tekanan tinggi yang berfungsi untuk melindungi instrumen pada produk manufaktur, seperti barang elektronik, otomotif, dan mesin-mesin berbasis logam.

Tahun lalu, pemerintah pernah meminta produsen baja asal Jepang, Nippon Steel, berinvestasi di Indonesia untuk membangun pabrik baja khusus guna memenuhi kebutuhan industri otomotif dan elektronik.

Impor komoditas tersebut cukup besar, yakni mencapai US$1 miliar per tahun dengan volume antara 1 juta ton hingga 1,5 juta ton.

Berdasarkan analisis Depperin, untuk memproduksi satu unit mobil dibutuhkan baja khusus sekitar 200 kg. Dengan volume produksi mobil di Indonesia yang mencapai sekitar 400.000 hingga 500.000 unit per tahun, maka potensi pasar baja khusus ini sangat besar. "Nippon masih mengkaji secara ekonomis investasinya ke Indonesia," katanya.

Fasilitasi 13 sektor Ansari menambahkan terkait kesepakatan itu, Indonesia meminta Jepang memfasilitasi dan memberi akses pasar yang lebih besar terhadap impor 13 produk prioritas agar dapat diterima di pasar Jepang melalui program MIDEC/Manufacturing Industry Development Center.

Ke-13 sektor tersebut di antaranya tekstil dan produk tekstil (TPT), plastik, mold and dies, makanan dan minuman, dan baja.

Sementara itu, fasilitas yang diminta Indonesia antara lain pembelian teknologi pemrosesan dan pelatihan sumber daya manusia (man power). (yusuf.waluyo@bisnii.co.id)

Sumber : Bisnis Indonesia, Page : T2 

 Dilihat : 3589 kali