26 Februari 2008
Impor Alat Berat Bekas Tak Terimbas Krisis Baja

JAKARTA. Krisis bahan baku baja dunia belum mempengaruhi impor alat berat bekas Indonesia. Hingga kini, pengimpor yang mendatangkan alat-alat berat bekas ke Indonesia masih belum mengubah harga.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Rekondisi Alat Berat dan Truk Indonesia (Aparati), Rusmin Effendi mengatakan, kenaikan harga baja tidak berdampak langsung kepada harga alat berat bekas. Sebaliknya, kenaikan harga baja dunia malah berdampak langsung terhadap alat-alat berat baru.

"Sekarang harga alat berat baru semakin mahal. Jadinya, industri dalam negeri semakin membutuhkan impor alat berat bekas. Karena memang harganya jauh lebih murah dibandingkan membeli alat berat baru," kata Rusmin kepada KONTAN, Minggu (24/2) kemarin.

Kondisi itu, lanjut Rusmin, memberi peluang peningkatan volume impor alat berat bekas. Hargajual alat berat bekas pun akan terkoreksi. "Tapi kalau pun nanti ada kenaikan, itu sangat kecil. Hubungan naiknya harga baja dunia dengan harga alat berat bekas itu tak langsung," ujar Rusmin.
Rusmin menambahkan, selama ini permintaan alat berat berkas di dalam negeri mencapai 15.000 unit per tahun. Sektor pertambangan, perkebunan, dan sektor infrastruktur merupakan bidang bisnis yang paling banyak memakai alat berat bekas.
Umumnya, alat-alat berat bekas tersebut memang belum diproduksi di dalam negeri. Salah satunya adalah dump truck dengan bobot berat 18 ton-25 ton.

Melihat potensi naiknya permintaan alat-alat berat bekas,Rusmin optimistis tahun ini importasi alat berat meningkat 20% dibanding tahun lalu. Alat berat bekas itu disukai karena harganya yang relatif lebih murah. "Perbedaannya bisa 50% dari harga yang baru," ujarnya.
Perusahaan rekondisi mulai bermunculan pada 2000-an. Para konsumen alat berat domestik kulakan mesin bekas dari China, Singapura, dan Jepang. Sekitar 70% dari perusahaan itu berlokasi di Jakarta dan sekitarnya.
Havid Vebri

Sumber : Harian Kontan, Page : 13 

 Dilihat : 5099 kali