22 Februari 2008
MASALAH BAJA

Tingkat utilisasi industri seng baja (Baja Lapis Seng/BjLS) nasional sepanjang tahun 2007 masih bergerak stagnan pada posisi 34,16% dengan total produksi 410.000 unit. Padahal, total kapasitas terpasang nasional mencapai 1,2 juta ton. Di sisi lain, impor BjLS nonstandard dengan ketebalan di bawah 0/2 milimeter ternyata melonjak tajam mencapai angka 33,3%. Jika dibandingkan dengan tahun 2006, impor BjLS naik dari 15.000 ton menjadi 200.000 ton pada tahun 2007.

Seng baja impor nonstandar tersebut diduga berasal dari China. Gapsi memperkirakan impor produk tersebut pada tahun 2008 akan semakin besar seiring dengan terbitnya kebijakan pemerintah China yang berniat memacu importasi produk hilir baja mereka dengan menurunkan tarif pajak ekspornya. Hal itu dipastikan akan membuat ekspor China meningkat tajam terutama ke negara-negara yang memiliki tarif bea masuk rendah, antara lain Amerika Latin, Afrika, dan Kawasan Asia termasuk Indonesia.

Beberapa produk hilir baja China yang akan dipacu ekspornya mencakup komoditas industri intermediate III di subsektor lembaran (BjLS, pelat timah, coated steet, profil, dan pipa las) dan di subsektor batangan (steel cord, pegas, spora!, kawat, paku, mur, baut, dan besi beton). Menurut perkiraan, peningkatan ekspor produk hilir baja China ke Indonesia pada tahun 2008 bisa mencapai 20% hingga 30%. Apabila impor di hilir naik, utilisasi di industri dalam negeri akan menurun drastis hingga 20%.

Ketua Gabungan Pabrik Seng Indonesia (Gapsi) Ruddy Syamsuddin mengatakan, derasnya arus impor produk nonstandar telah mematikan gairah produksi industri seng baja di dalam negeri sehingga banyak di antara mereka yang akhirnya merangkap menjadi pedagang seng baja nonstandar. Bahkan ada anggota Gapsi yang memproduksi seng baja nonstandar. Upaya ini ditempuh untuk menyiasati melemahnya daya beli konsumen dengan memproduksi seng murah agar bisa tetap bertahan.

Dengan demikian, produksi seng baja domestik sepanjang tahun 2007 tidak seluruhnya memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Ada kemungkinan 50% dari total konsumsi, atau sekitar 610 ribu ton, merupakan produk nonstandar. Masuknya produk ini disebabkan oleh lemahnya pengawasan pemerintah terhadap penerapan SNI. Apalagi ketentuan SNI tersebut masih bersifat sukarela. Sebagai perbandingan, saat ini harga seng baja lokal mencapai Rp35.000/lembar, sedangkan produk Impor 20% iebih murah dari harga lokal tersebut.

Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka Depperin Ansari Bukhari masih mengkaji sejumlah tindakan antisipatif untuk menyelamatkan industri seng baja. Misalnya, reharmonisasi tarif Bea Masuk (BM) dan pengamanan perdagangan. Tetapi sampai sekarang Depperin belum meninjau kebijakan tersebut. Sebab, masalahnya bukan dari China semata tetapi pelemahan pasar domestik ini akibat permainan mereka sendiri. Bisa saja pemerintah akan memperketat pengawasan SNI yang saat ini terus dilakukan.

Sementara itu Asosiasi Pabrik Billet, Batang Kawat, Besi, Beton dan Profil Seluruh Indonesia (Abbepsi) memproyeksikan produk baja tulangan tahun 2008 akan sama dengan tahun 2007, yaitu 4,5 juta ton. Menurut Ketua Abbepsi Ismail Mandry, faktor harga baja dunia yang cenderung fluktuatif memukul industri baja sehingga mengakibatkan produksi baja tidak bisa ditebak. Harga baja tulangan dan beton dalam negeri yang sepanjang tahun 2007 dipatok di level Rp4.300/kg, saat ini naik 86% hingga menjadi Rp8.000/kg.

Untuk menunjang kinerja industri tulang batangan, Abbepsi meminta agar Wapres mencabut tuduhan terhadap slag baja atau sisa limbah hasil produksi industri baja yang dimasukkan dalam daftar limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) sebab tindakan itu berdampak menimbulkan kerugian pada kalangan produsen. Menurut hasil pemeriksaan laboratorium secara ilmiah, sisa limbah hasil produksi industri baja itu tidak termasuk dalam golongan B3.

Sebelumnya permintaan yang sama disampaikan kepada Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Berdasarkan dokumen Abbepsi, beberapa perusahaan telah melakukan pengujian sampel limbah, antara lain PT Ispafjndo di Sidoardjo, Jatim, PT Inter World Steel Mills Indonesia, PT Pulogadung Steel, dan PT Kesa Indotama. Berbekal hasil uji tersebut, Abbepsi melayangkan surat ke Deputy IV Menneg LH pada Agustus 2006. Surat tersebut berisi desakan kepada Kementerian LH untuk segera mencabut 5/^dan scafedari daftar limbah B3 karena dinilai tidak melanggar ambang batas yang ditetapkan sebagai limbah B3.

Kenaikan harga sejumlah produk di tingkat pabrik saat ini sudah mencapai 100% jika dibandingkan harga produk pada awal tahun 2007. Lonjakan harga terjadi karena harga bahan baku wire rod (kawat baja) naik signifikan. Menurut Ketua Ikatan Pabrik Paku dan Kawat Indonesia (Ippaki) Ario N Setiantoro, harga paku dan kawat beton di tingkat pabrik saat ini telah melampaui angka RplO.OOQ/kg. Sementara di tingkat eceran harganya berada di level Rpl2,OOD14.000/kg, Padahal pada periode September hingga Desember 2007, harga di tingkat pabrik, masih sekitar Rp5.800-Rp8.800/kg.

Di samping produk paku dan kawat, kenaikan harga juga mengimbas pada produk pipa baja. Menurut Wakil Ketua Umum Gabungan Pabrik Pipa Baja (Gapipa) Untung Yusuf, tingginya harga Hot Rolled Coils (HRC) otomatis menaikkan harga bahan baku pipa baja, baja canai dingin (Cold Rolled Co/7s/CRQ. Sekarang harga CRC di pasar dunia sudah mencapai USD860/ton.

Produk hilir baja lain yang dipastikan naik adalah BjLS. Untuk produk BjLS ukuran 0,2 milimeter harganya naik dari Rp32.000/lembar menjadi Rp35.0QQ/lembar. Opsi menaikkan harga jual merupakan konsekuensi logis yang dipilih kalangan produsen seng karena bahan baku CRC menempati 70% dari total struktur biaya produksi (cost structure}. Kenaikan harga ini bisa membuat penjualan menjadi stagnan kalau daya beli konsumen belum pulih.

Harga bahan baku baja jenis HRC diperkirakan akan mengalami lonjakan sepanjang tahun 2008. HRC sendiri merupakan bahan baku untuk produk hilir baja seperti pipa, besi beton, seng, paku serta bahan bangunan lainnya. Saat ini harga HRC sudah menembus level USD710/ton atau naik 16% dibanding akhir tahun 2007 yang masih USD610/ton.

Kenaikan harga HRC itu dipicu naiknya harga bijih besi, ongkos angkut, biaya energi, dan meningkatnya permintaan dunia yang diperkirakan mencapai 6,8% sepanjang tahun 2008. Saat ini, kenaikan harga bahan baku bijih besi dunia sudah mencapai 30%, sedangkan ongkos angkut naik sekitar 100%, dari USD28-32/ton menjadi USD65/ton. Secara bersamaan, konsumsi baja dunia juga mengalami kenaikan.
(AI)

Sumber : Business News, Page : 9 

 Dilihat : 4509 kali