22 Februari 2008
BRI Kaji Emisi Obligasi Rp 1 Triliun

JAKARTA PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) menjajaki penerbitan obligasi subordinasi sebesar Rp 1 triliun pada akhir 2008. Emisi obligasi itu akan digunakan untuk melunasi utang BRI yang akan jatuh tempo.

"Kami siap-siap karena ada obligasi BRI lama yang akan jatuh tempo. Jadi kajian obligasi ini untuk mempersiapkan kalau tidak salah sekitar Rp 1 triliun," kata Dirut BRI Sofyan Basir di,Jakarta, Kamis (21/2).

Obligasi lama BRI, ujar dia, akan jatuh tempo pada akhir ta, hun 2008. Dengandemikian BRI masih memiliki waktu cukup panjang untuk melakukan pengkajian emisi obligasi. Ia mengatakan setidaknya dibutuhkan waktu satu bulan untuk pengkajian.
Rencana penerbitan obligasi subordinasi tersebut dalam rencana bisnis bank (RBB) tahun 2008. Namun, perseroan juga masih mencermati situasi pasar keuangan yang kini masih kerap bergejolak. Saat ini, BRI memiliki rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio) di kisaran 17 persen.

Sebelumnya BRI mengucurkan kredit sebesar Rp 1,7 triliun untuk membiayai revitalisasi pabrik gula. Kredit itu diberikan, diantaranya, untuk PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII sebesar Rp 324 miliar, PTPN XI Rp 637 miliar, serta untuk PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI)/PTPN XIV Rp 128 miliar. "Revitalisasi industri gula termasuk program yang mendesak guna meningkatkan rendemen gula. Itu akan membuat pendapatan petani tebu lebih baik," kata Menneg BUMN, Sofyan Djalil.

Apalagi, menurut Sofyan, ke depan harga gula di pasar global akan terus meningkat sehingga kebijakan revitalisasi merupakan langkah strategis. Penandatanganan nota kesepahaman itu sendiri berkaitan dengan peningkatan sinergi antarBUMN. "PT KA bekerja sama dengan Inka memberi order untuk membuat gerbong batu bara 300 buah, yang pendanaannya dilakukan BRI," ujar Sofyan, menambahkan. Selain itu, ada pula kerja sama PT KA dengan PT Krakatau Steel dalam jual beli baja.

Sofyan Basir, mengungkapkan, penyaluran kredit untuk PTPN dan RNI itu terkait dengan penunjukkan BRI sebagai bank koordinator yang mendukung program revitalisasi gula nasional. "Total kredit revitalisasi gula itu Rp 1,7 triliun, sedangkan untuk PT INKA, KAI dan UI masih harus dibuat kerja samanya," ujar Sofyan.

Menurut Sofyan Basir, akan ada kontrak tripartit antara INKA dengan KAI dan BRI, yang akan mendukung modal kerja. "Jadi kalau KAI butuh uang, tinggal pinjam pada kita, baru kita yang bayar ke PT INKA. Nah itu konsep sinergi yang akan dibangun," ujar dia. Buna

 

 Dilihat : 3202 kali