20 Februari 2008
Pemerintah Perlu Proteksi Harga . Pelat Baja

SURABAYA, KOMPAS-Pemerintah perlu segera memproteksi harga pelat baja agar industri dalam negeri aman. Apalagi sekarang ini untuk mendapatkan pelat baja ukuran tertentu sangat sulit karena cenderung diekspor ke China.

Menurut Kepala Produksi PT Atak Otomotif Indo Metal, Lalu Saidi Cholil, Selasa (19/2) di Sidoarjo, tanpa ada upaya pemerintah untuk memproteksi, industri kecil menengah (IKM) di sektor suku cadang otomotif akan makin terpuruk.
"Kenaikan harga pelat baja hampir setiap hari membuat industri suku cadang otomotif kelimpungan," katanya.

Pada tahun 2002-2004, harga baja bulat Rp 125.000 per lonjong sepanjang 12 meter. Kini harga baja bulat tersebut sudah naik menjadi Rp 230.000.

"Tidak hanya pelat baja yang terus melambung, tetapi juga bahan baku pendukung seperti cat dan minyak tanah," kata Saidi. PT Atak Otomotif Indo Metal memproduksi sekitar 2.000 item barang berupa suku cadang otomotif dan nonsuku cadang, terutama alat pertanian.

Sementara itu, para perajin logam di Cibatu, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, yang membuat berbagai suku cadang untuk pabrikan sepeda motor harus menghemat biaya operasional.

Pasalnya, kenaikan harga bahan baku tidak seimbang dengan kenaikan harga produk yang akan dibeli oleh pabrikan sepeda motor. Ketua Asosiasi Permesinan dan Pengerjaan Logam Kabupaten Sukabumi Otin Saepudin mengatakan, harga pelat baja untuk suku cadang sepeda motor sudah naik menjadi Rp 9.500 hingga Rp 10.000 per kilogram. Harga sebelumnya Rp 9.000 per kilogram.
"Saat bertemu dengan pabrikan sepeda motor, harga balian baku yang diterima pabrikan hanya Rp 8.500," kata Otin.

Dirut PT Berkah Jaya Mandiri Yayat Sudrajat mengatakan, untuk penghematan biaya operasional, pengerjaan harus mulai dilakukan dengan mesin supaya waktunya lebih efisien.

"Sebagai contoh, untuk melubangi pelat, kita pakai manual dengan bor tangan. Sekarang, kita gunakan mesin untuk mengebor sehingga waktunya lebih efisien dan hasilnya bisa lebih banyak," jelas Yayat. (ETA/AHA)

Sumber : Kompas, Page : 17 

 Dilihat : 4455 kali