20 Februari 2008
Harga Bijih Besi Vale Naik 65%, Rio Tinto Ingin Lebih Tinggi

LONDON. Para produsen besi baja Asia harus bersiap-siap menghadapi lonjakan bahan baku. Sebab, setelah perusahaan tambang Brazil, Cia. Valedo Rio Doce, menaikkan harga bijih besinya 65%, kini, giliran Grup Rio Tinto bersiap mengerek harga produknya.

Yang menarik, Rio ternyata menginginkan kenaikan harga yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan harga yang disepakati Vale dan pembelinya. Rio ingin memungut biaya ekstra berupa insentif pengangkutan (freight premium) kepada para pembeli bijih besi asal China, Jepang, dan Korea Selatan. Sebab, selama ini, mereka mengeluarkan biaya yang lebih murah untuk mengangkut bijih besi Rio dari tambangnya di Australia, dibandingkan dari Brazil.

"Kami akan tetap berusaha memperoleh freight premium itu untuk mencerminkan kedekatan tambang kami dengan konsumen Asia," kata Sam Walsh, CEO unit bijih besi Rio Tinto di London, Senin (18/2).

Jika keinginan Rio tercapai, rezim "satu harga untuk semua" yang selama ini berlaku bisa bubar. Menurut Michael Rawlinson, analis pertambangan Liberum Capital di London, komponen freight premium itu bisa membuat harga bijih besi Rio melonjak 154%.

Sebagai perbandingan, Senin lalu, Nippon Steel Corp., JFE Holdings Inc, dan Posco (Korea Selatan) telah sepakat membeli byih besi dari Vale dengan harga rata-rata USS 78,9 per ton. Harga yang akan berlaku mulai 1 April 2008 itu telah melonjak 65% dibandingkan setahun lalu.

Tapi, tentu saja, Rio tak asal "menodong" para konsumennya. Bloomberg mencatat bahwa selama ini, perusahaan baja Asia yang membeli bijih besi dari Australia dapat menghemat biaya pengangkutan US$ 34,85 per ton jika dibanding membelinya dari Brazil. Tahun lalu, biaya pengangkutan bijih besi dari Brazil ke China adalah sekitar US$ 59,19 ton, adapun dari Australia hanya US$ 24,34 per ton.

Jim Lennon, analis Macquarie mencatat, pada 2005, BHP Billiton Ltd juga pernah menegosiasikan freight premium tapi gagal. "Negosiasi seperti ini belum pernah berhasil, tapi kemungkinan untuk berhasil tetap ada," ujarnya. Apalagi, menurut Lennon, saat ini, harga bijih besi di pasar tunai (spot) telah mencapai tiga kali lipat harga kontrak berjangkanya. Ini menjadi bukti bahwa para produsen byih besi tak puas dengan harga kontrak.

Sekadar catatan, dalam enam tahun terakhir, harga bijih besi terus menerus mencetak rekor. Permintaan produsen baja China yang melonjak tinggi jadi pemicunya.

Sumber : Harian Kontan, Page : 16 

 

 Dilihat : 3827 kali