20 Februari 2008
Mendag: Target Ekspor Direvisi

Jakarta-Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menyatakan, pemerintah akan merevisi target ekspor menyusul diturunkannya target pertumbuhan ekonomi 2008 dari 6,8 persen menjadi 6,4 persen.

Namun, kata Mendag, saat ini semuanya masih dihitung karena kalau ada revisi makro secara umum, tentunya semuanya ikut direvisi. "Tergantung revisi (target) yang lain juga karena ini adalah hitungan yang menyeluruh," kata Mendag Mari di Jakarta, Selasa.

Dia menyebut, perhitungan target ekspor akan dipengaruhi oleh realisasi investasi dan pertumbuhan ekonomi di pasar tujuan ekspor Indonesia. "Tahun lalu pertumbuhan ekonomi diperkirakan 6,8 persen, ekspor kita targetkan 14,5 persen. Sekarang .tetap 14,5 atau lebih rendah itu yang sedang kita hitung," ujarnya. Sementara kalangan pengusaha memperkirakan ekspor nonmigas tahun ini hanya akan tumbuh sekitar 12-13 persen saja. Sedang Mendag berharap ekspor tetap bisa tumbuh di atas 10 persen. "Kita harapkan demikian karena ekspor memiliki peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi. Jadi kita perlu tetap mempertahankan agar ekspor tetap tumbuh," tambahnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai total ekspor 2007 mencapai 113,99 miliar dolar AS atau mengalami pertumbuhan 13,09 persen dibanding tahun sebelumnya. Nilai ekspor nonmigas 2007 tercatat 91,94 miliar dolar AS atau tumbuh 15,51 persen yang artinya sedikit melampaui target pemerintah 14,5 persen.

Ekspor nonmigas paling besar terjadi pada kelompok lemak dan minyak hewan/ nabati sebesar 10,231 miliar dolar AS, kelompok bahan bakar mineral sebesar 107,2 juta dolar AS, serta kelompok karet dan barang dari karet sebesar 8,9 juta dolar AS.

Ekspor Baja Sementara itu, Menteri Perindustrian Fahmi Idris mengusulkan tata niaga ekspor bahan baku baja antara lain bijih besi, melalui penerapan pungutan ekspor atau bahkan pelarangan ekspor. "Ini untuk mendukung pengembangan industri baja nasional lebih pesat lagi," katanya.

Menurut Fahmi, pihaknya memproyeksikan permintaan baja di dalam negeri mencapai sekitar 10 juta ton pada 2013, seiring dengan meningkatnya pembangunan infrastruktur. "Dalam enam tahun ke depan (dari 2007) kebutuhan baja nasional akan mendekati 10 juta ton," urainya di Jakarta, Selasa.

Fahmi mengatakan, pada 2007 permintaan baja nasional telah mencapai enam juta ton per tahun. Padahal kemampuan produksi baja nasional hanya sekitar 4,5-5juta ton per tahun.

Oleh karena itu, untuk mengantisipasi permintaan baja yang terus meningkat, pemerintah mendorong investasi industri baja di dalam negeri, terutamadi daerah penghasil bahan baku baja seperti Kalimantan.

Saat ini pemerintah telah mendorong BUMN baja nasional, PT Krakatau Steel membangun pabrik baja hulu di Kalimantan Selatan, yang memiliki sumber salah satu bahan baku baja yaitu bijih besi.

Bahkan untuk mendorong masuknya investasi di industri baja, pemerintah cq Depperin memasukkan industri baja yang menggunakan bahan baku lokal mendapat insentif fiskal sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 1 Tahun 2007.

Depperin juga telah mengundang investor asing seperti produsen baja dari India dan China untuk bermitra dengan perusahaan baja di dalam negeri, mengembangkan baja berbahan baku lokal. "Saat ini (produsen baja) India telah masuk ke Kalimantan Tengah," kata Fahmi.

Fahmi berharap, dengan masuknya investasi baru dan penambahan kapasitas produksi baja baik dari hulu dan hilir, maka kebutuhan baja nasional pada 2013 bisa terpenuhi dari dalam negeri.

Sumber : Harian Ekonomi Neraca, Page : 9

 

 Dilihat : 2916 kali