18 Februari 2008
Tiga Perubahan BM Baja Ditetapkan Akhir Februari

JAKARTA-Pemerintah berencana menetapkan tiga perubahan dalam bea masuk (BM) komoditas baja pada Februari 2008. Ketiga ketentuan baru itu meliputi penetapan BM antidumping (BMAD), penyesuaian BM baja canai panas (hot rolled coils/ HRC) di bawah 2 milimeter, dan penurunan BM HRC di atas 2 mm.

Ketua Tim Tarif Departemen Keuangan Anggito Abimanyu menjelaskan, Tim Tarif sedang menyelesaikan seluruh kajian termasuk penetapan BMAD baja menjadi sebuah keputusan final oleh Menkeu. Selanjutnya, ketiga usulan perubahan BM baja itu segera disampaikan Tim Tarif kepada Menteri Keuangan dalam rapat pleno pada minggu depan. "Mudah-mudahan akhir bulan ini bisa selesai semuanya," ujarnya di Jakarta, Jumat (15/2).

Anggito yang juga Kepala Badan Kebijakan Fiskal Depkeu menerangkan, penetapan BMAD baja oleh Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) pada 19 Desember 2007 telah disetujui oleh Menteri Perdagangan. Selanjutnya, Tim Tarif mulai mempertajam analisis KADI untuk mendapatkan keputusan akhir sehingga bisa disetujui Menkeu.

Selain penetapan BMAD baja, beberapa agenda yang akan dipercepat Tim Tarif pada akhir Februari adalah penyelesaian BM 0% HRC berketebalan di bawah 2 mm yang tertuang dalam ketetapan Peraturan Menteri Keuangan No 85/PMK.011/2007. Peraturan tersebut telah habis masa berlakunya pada 7 Februari 2008.

Seiring dengan itu, lanjut Anggito, usulan dari Menteri Perindustrian (Menperin) Fahmi Idris tentang penghapusan BM HRC berketebalan di atas 2 mm juga masih diselesaikan Tim Tarif. Saat ini BM HRC berketebalan di atas 2 mm ditetapkan 5% dan diusulkan dihapus guna mendorong pertumbuhan industri hilir.

Berdasarkan catatan Investor Daily, insentif pembebasan BM 0% untuk HRC di bawah 2 mm menimbulkan kontroversi di kalangan produsen baja. Fr Krakatau Steel (KS) menolak pemberlakuan kembali PMK tersebut karena diduga telah mendistorsi pasar domestik. Sedangkan kalangan produsen baja hilir seperti PT Essar Indonesia mendukung perpanjangan insentif tersebut untuk menjamin kebutuhan bahan baku.
Anggito menjelaskan, Tim Tarif sudah memiliki kajian dari ketiga perubahan yang akan terjadi untuk BM baja, (dry)

Sumber : Investor Daily Indonesia, Page : 23 

 

 Dilihat : 3675 kali