15 Februari 2008
Meneg BUMN Dukung Antam Beli 9,36 Persen Saham Freeport

Jakarta-PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) terus melebarkan sayap bisnisnya. Di saat menantikan hasil keputusan final siapa yang memenangkan saham Herald Resources, perusahaan tambang Australia, antara Antam dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI), BUMN tambang plat merah ini sudah mengincar saham perusahaan tambang lain, yaitu PT Freeport Indonesia

Seperti diketahui, Antam dan PT Bumi Resources tengah bersaing ketat untuk mendapatkan Herald Resources. Rencananya, duet Antam bersama Zhongjin (China) akan mengakuisisi saham Herald hingga 100 persen.Nilai akuisisi Antam Zhongjin di Herald sekitar 2,5 dolar Australia per lembar saham, sehingga total nilai akuisisi menjadi 504,8 juta dolar Australia atau setara dengan 448,1 juta dolar AS. Sedangkan nilai akuisisi Bumi totalnya hanya sekitar 375 juta dolar AS.

Meskipun demikian, peluang Antam untuk mengakuisisi Herald dinilai para pengamat berat. Pasalnya, saingannya adalah Bumi Resources yang dinilai sudah sangat berpengalaman dalam melakukan akuisisi.
Namun lain halnya dengan Freeport. Pasalnya kali ini, peluang Antam terhitung besar, karena Menteri Negara BUMN Sofyan A. Djalil telah menunjukkan dukungannya. Sofyan menilai rencana Aneka Tambang membeli 9,36 persen saham Freeport Indonesia, sebagai langkah yang strategis.Bahkan lebih jauh lagi, Sofyan bermaksud memberikan rekomendasinya dengan menghubungi langsung departemen ESDM. "Saya akan kirim surat ke Menko Perekonomian dan Menteri ESDM agar saham Freeport diberikan ke Antam," katanya di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, sebagai BUMN, Antam seharusnya mendapat kesempatan pertama membeli saham perusahaan tambang tembaga dan emas raksasa di Papua tersebut. Sofyan juga mengatakan, kegiatan usaha Freeport akan tetap menarik di masa depan, sehingga pemerintah berharap sahamnya diambil BUMN seperti Antam.

Sofyan juga memberikan dukungan jika Antam mau membeli saham PT Newmont Nusa Tenggara (NMT). "Tapi, sekarang kan sudah telat, jadi mungkin pada penawaran berikutnya/' kata Sofyan.

Sementara itu, Antam sendiri baru saja melaporkan kinerja produksinya hingga akhir 2007 lalu. Total biaya eksplorasi Antam pada Januari 2008 mencapai Rp4,8 miliar (data awal), turun drastis sekitar 66,43 persen dibanding biaya eksplorasi pada Desember 2007 yang mencapai Rpl4,3 miliar.
"Kegiatan eksplorasi Antam masih berfokus pada komoditas nikel, emas dan bauksit," kata Sekretaris Perusahaan Antam, Bimo Budi Satriyo, dalam laporan kegiatan eksplorasi bulanannya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta, Kamis.

Menurut Bimo, Antam melaksanakan eksplorasi nikel yang dilaksanakan di daerah Halmahera, yaitu di Buli dan Pulau Obi dan di Sulawesi Tenggara dengan total biaya eksplorasi mencapai sekitar Rp3,3 miliar.Sementara kegiatan eksplorasi emas, kata dia, dilaksanakan di Pongkor dan pandayan-Jawa Barat, Gembes-Jawa Timur, Batangasal-Jambi, serta Mao Mamuju-Sulawesi Barat dengan total biaya eksplorasi emas sekitar Rp 1,4 miliar.

Eksplorasi bauksit pada Januari dilaksanakan di daerah Menpawah dan Landak,Kalimantan Barat, dengan total biaya eksplorasi sebesar Rp152,4 juta, tambahnya.Antam juga berencana melakukan kerjasama dengan PT Krakatau Steel untuk pengembangan proyek Iron di Kalimantan Selatan, yang saat ini dalah tahap finalisasi perjanjian usaha patungan, kata Bimo.

"Proyek dengan investasi awal 65 juta dolar AS tersebut akan mengolah deposit bijih besi di Kalimantan Selatan menjadi1 sponge iron' dengan kapasitas produksi 300 ribu ton sponge iron," jelasnya.
Rencana kepemilikan Antam dalam proyek tersebut adalah 34 persen, sedangkan sisanya akan dimiliki oleh PT Krakatau Steel. Pendanaan
nya, berasal dari ekuitas para pihak dan pinjaman dengan rasio antara pinjaman dengan ekuitas 65:35, sehingga kewajiban Antam atas ekuitas proyek tersebut sekitar 7,7 juta dolar AS, papar Bimo.*PPh

Sumber : Harian Ekonomi Neraca, Page : 3

 

 Dilihat : 3149 kali