14 Februari 2008
Konversi Minyak Tanah ke Elpiji Tuntas 2009

JAKARTA- Pemerintah berencana mempercepat penyelesaian program pengalihan minyak tanah ke elpiji dari 2010 menjadi 2009. Pertamina pun berniat menaikkan target penarikan minyak tanah dari dua juta kiloliter (kl) menjadi 3,5 juta kl.

Saat ini terdapat 43 juta kepala keluarga (KK) yang akan dikonversi. "Jika tahun ini hanya 15 juta KK yang diselesaikan, beban 2009 yang harus dikonversi mencapai 27 juta KK," ujar Deputi Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya dalam orientasi wartawan di kantor pusat Pertamina, Jakarta, Rabu (13/2).

Sebelumnya diberitakan, pemerintah menambah porsi konversi tahun ini dari 12,5 juta kepala keluarga (KK) menjadi 15 juta KK. Akibat penambahan itu, kebutuhan tabung meningkat jadi 30 juta tabung, dan kompor menjadi 15 juta unit. Hanung menegaskan, untuk pengadaan kelengkapan gas termasuk tabung gas kemasan 3kg dalam program konversi energi itu, pihaknya bekerja sama dengan lima BUMN. Kelima BUMN itu adalah PT Adhi Karya, PT Wijaya Karya, PT Barata Indonesia, dan PT Boma Bisma Indra serta PT Krakatau Steel yang ditunjuk sebagai penyedia bahan baku pelat baja. Rencananya tahun ini mereka bisa berproduksi dan akan terus meningkat pada 2009 menjadi 50 juta tabung.

"Pasokan elpiji sebagian besar berasal dari Pertamina, sekitar 900 ribu metrik ton dan dari kontraktor bagi hasil sebesar 800 ribu metrik ton. Sisanya sebesar 400-800 ribu matrik ton akan diimpor," ujar Hanung. Manajer Operasi Gas Domestik Pertamina Muller Hutagaol menambahkan, pihaknya akan menggunakan sistem putus kontrak dalam pengadaan tabung gas elpiji 3 kg tahun ini. Sistem tersebut ditujukan bagi produsen yang tidak mampu penuhi batas waktu pengiriman.

"Kami juga mengenakan penalti 1,5% dari total nilai kontrak. Besaran penalti relatif lebih kecil dibandingkan dengan tahun lalu yang mencapai 5%," ujar Muller pada acara MoU antara produsen tabung gas dengan PT Krakatau Steel di kantor Departemen Perindustrian, Jakarta, kemarin.

Ia menekankan agar para produsen tetap mengacu pada kemampuan produksinya bukan kapasitas terpasang. Dengan sistem ini, produsen yang tidak bisa memenuhi batas waktu kontrak akan dikenakan putus kontrak.
"Kewajiban untuk memenuhi diberi batas 30 hari, lalu Pertamina akan memberi waktu tambahan 15 hari, setiap hari keterlambatan akan dikenakan penalti," katanya.

Pengadaan tabung gas tahun 2008 ini secara total akan mencapai 25 juta. Dalam tender pertama ditetapkan 8 juta tabung untuk pengadaan dari Februari hingga Juni 2008. Impor BBM Di tempat yang sama, General Manager Bahan Bakar Minyak Pertamina Djaelani Sutomo mengatakan, pada Maret 2008 pihaknya akan mengimpor 11,5 juta kl atau naik 1,5 juta kl dibanding periode Januari dan Februari. Impor terbesar adalah untuk solar sekitar 6 juta kl dan 3,5 juta kl premium. Sisanya untuk kerosin (minyak tanah).

Djaelani mengatakan, kebutuhan BBM pada JanuariFebruari cenderung rendah karena tidak ada kenaikan konsumsi. "Namun konsumsi mulai naik pada Maret dan TnencafJiti puncaknya pada bulan Juni," jelas Djaelani.

Sumber : Investor Daily Indonesia, Page : 20 

 Dilihat : 3154 kali