14 Februari 2008
KS dan Produsen Tabung Gas Sepakati Pasokan Bahan Baku

JAKARTA (Suara Karya): PT Krakatau Steel (KS) dan 20 produsen tabung gas nasional menandatangani nota kesepahaman (MoU) tentang pasokan dan harga bahan baku tabung gas untuk program konversi minyak tanah ke gas elpiji.

Kesepakatan ini direalisasikan untuk menjamin pasokan tabung gas pesanan Pertamina pada semester pertama tahun ini sebesar 8 juta unit. Penandatangan MoU kedua pihak dilakukan di Kantor Departemen Perindustrian (Depperin) Jakarta, Rabu (13/2) dan disaksikan Dirjen Industri Logam, Mesin, Tekstil, dan Aneka (ILMTA) Depperin Ansari Bukhari.

Menurut Ansari,n dengan adanya kesepakatan tersebut, maka ada jaminan kelangsungan produksi industri tabung gas di dalam negeri yang telah mendapat kontrak pengadaan tabung gas. "Pada 2008 kebutuhan tabung gas (konversi) sebanyak 25 juta unit akan diproduksi di dalam negeri. Itu komitmen dari 20 produsen (tabung gas)," kata Ansari.

Pada semester I, para produsen tabung gas harus memasok sekitar 8 juta unit tabung ke Pertamina. Untuk itu, KS menjamin pasokan bahan baku yang dibutuhkan sekitar 20.000 ton baja ke 20 produsen tabung gas tersebut. "Kami akan mengirim pasokan bahan baku mulai Februari sampai Juni dengan harga Rp 8.200 per kilogram," kata GM Penjualan KS Marsidom Simanungkalit.

Dia mengatakan, harga tersebut sudah sesuai dengan harga baja di pasar internasional saat ini. Sehingga untuk sementara pemerintah tidak perlu mengeluarkan subsidi. Namun, mengingat harga baja dunia terus meningkat, bisa saja pemerintah memberikan subsidi.

Dan untuk menjamin pasokan bahan baku kepada industri tabung di dalam negeri, KS menyediakan stok penyangga sebesar 10.000-15.000 ton per bulan atau cukup untuk cadangan sampai Juni 2008. "Sekarang (stok penyangga bahan baku) sudah tersedia sebagian, sebesar 5.000 ton," ujar Marsidom.

Ke-20 perusahaan yang menandatangani MoU pasokan bahan baku, antara lain PT Pelangi Indah Carindo yang mendapat kontrak pengadaan 900.000 unit tabung gas untuk semester I 2008. Selain itu, Energi Multitech Indonesia yang mendapat kontrak pengadaan 800.000 unit, PT Alim Ampuh Jasa Steel sebanyak 800.000 unit, PT Asa Bintang Pratama 600.000 unit, dan PT Wijaya Karya Intrade sebanyak 600.000 unit.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Industri Tabung Baja Indonesia (ASITAB) Tjiptadi mengharapkan KS benar-benar memenuhi pasokan bahan baku tersebut. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi gangguan produksi dan jaminan pasokan tabung gas ke Pertamina.

"Kami'berharap kontrak dibuat secara rinci soal denda bila KS tidak bisa memenuhi pasokan bahan baku, misalnya akibat .gangguan produksi," katanya. Terkait hal ini, produsen tabung juga diminta menginformasikan kebutuhan bahan baku baja secara riil.

Di lain pihak, harga tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram untuk program konversi minyak tanah ke gas akan ditinjau setiap enam bulan. Ini dilakukan disesuaikan dengan perubahaan harga baja yang menjadi bahan baku utama produk tersebut. "Harga resmi tabung baja LPG kilogram dievaluasi setiap enam bulan sesuai perubahan harga baja," kata Menperin Fahmi Idris dalam Peraturan Menperin (Permenperin) Nomor 04/M-IND/PER/2 / 2008 Tentang Perubahan Permenperin Nomor 28/MIND/PER/3/2007. Kebijakan ini tentang Harga Resmi Tabung Baja Gas 3 kilogram dan Kompor Gas Satu Mata Tungku beserta aksesorisnya yang ditandatangani 6 Februari 2008 lalu.

Menperin menetapkan, harga tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram dan katub tabungnya sebesar Rp 104.000 per unit. Rinciannya harga tabungnya saja Rp 87.960 per unit dan katubnya Rp 16.040 per unit. Sedangkan harga kompor 1 mata tungku beserta aksesorisnya Rp 94.545 per unit. Jumlah tersebut belum termasuk PPN.

Menperin juga menegaskan, tabung gas dan kompor untuk program konversi, minyak tanah ke gas tersebut harus memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Di mana SNI telah ditetapkan dalam Permenperin Nomor 92/M
IND/PER/11/07.

Sumber : Suara Karya, Page : 7 

 Dilihat : 3971 kali