13 Februari 2008
PEMERINTAH SEGERA BEBASKAN BEA MASUK IMPOR BAJA CANAI PANAS

Dalam upaya pemerintah mendorong dan mengefisienkan industri baja hilir di, dalam negeri, pemerintah akan segera membebaskan bea masuk baja canai panas (Hot Rollled Coil/HRC) yang selama ini masih dikenakan lima persen. Menurut keterangan Menteri Perindustrian Fahmi Idris di Cilegon, Banten, Selasa (12/2), saat menyaksikan perluasan usaha Blue Scope Steel, upaya tersebut dilakukan selain untuk mengembangkan industri pendukung di dalam negeri, juga bertujuan untuk tidak mengganggu industri di dalam negeri.

"Kebutuhan baja hulu di dalam negeri cukup besar. Di satu sisi kebutuhan tersebut tidak seluruhnya mampu dipasok dari produsen baja terbesar di dalam negeri, Krakatau Steel. Dengan penurunan ini, diharapkan KS sudah efisien, sehingga mampu bersaing dengan baja impor yang saat ini mulai deras masuk ke dalam negeri," tutur Fahmi.

Dengan kemampuan pasokan baja hulu jenis HRC dari KS yang masih mengalami defisit, maka pemerintah akan menurunkan bea masuk tersebut sesuai dengan pertimbangan atau rekomendasi dari Komite Anti Dumping Indonesia (KADI). Di satu sisi pemerintah juga mendorong pengembangan industri baja secara lebih terintegrasi, artinya sampai ke industri hilir, yang juga ditopang oleh industri pendukungnya.

Di sisi lain, pemerintah juga ingin mendorong industri tersebut mampu merebut dan menguasai pasar global. Untuk itu, Fahmi menegaskan pemerintah akan melihat lagi kebijakan mana yang paling sesuai, karena industri baja termasuk salah satu industri strategis. Ia juga menekankan, pembebasan BM ini tidak akan berlangsung selamanya, tetapi diperkirakan pemerintah hanya akan memberlakukannya selama satu tahun. Diharapkan kebijakan ini tidak akan mendistorsi kondisi di pasar, melainkan menjadikan industri baja semakin efisien.

Melihat kondisi yang dialami industri baja, pemerintah memberi perhatian cukup besar. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah supaya industri baja seperti KS lebih efisien, industri ini akan dipindahkan ke Kalimantan Selatan. Untuk itu beberapa investor juga telah diundang guna merealisasikan rencana ini. Mereka bisa saja memilih, apakah akan berinvestasi di bidang iron making atau steel making di wilayah tersebut.

Perluasan Pabrik Kuatnya permintaan pasar perumahan maupun sektor industri komersial di Indonesia, menjadikan salah satu produsen baja Blue Scope Steel, memperluas investasi usahanya di Cilegon, Banten senilai USD101 juta pada Selasa (12/2).

Presiden Blue Scope Steel Indonesia dan Malaysia Rob Crawford, dalam kesempatan tersebut mengemukakan, maju dan kuatnya pasar Indonesia mendorong perusahaan memperluas kapasitas pabriknya, dan dengan langkah ini diharapkan makin terjadi efisiensi, peningkatan skala produksi dan peningkatan kemampuan dalam mendukung kebutuhan produk baja lapis ringan.

Perluasan kapasitas ini dialokasikan guna memproduksi baja lapis dengan ketebalan tipis antara 0,2 s/d 0,4 mm, yang umumnya dipergunakan di sektor konstruksi perumahan. Penambahan kapasitas ini diharapkan mulai dioperasikan akhir tahun 2009 dan mampu mengakomodasi pertumbuhan pasar konstruksi di Indonesia secara optimal.

'"Saat ini total kapasitas produksi baja lapis metal diperkirakan mencapai 100 ribu ton lini lapis metal per tahun dan 40 ribu ton lini tapis warna per tahun. Dengan kenaikan kapasitas dan optimalisasi lini produksi masing-masing 35 ribu ton lini lapis metal dan 20 ribu ton lini lapis warna per tahun, serta tambahan lini produksi baru 130 ribu ton (lini lapis metal) dan 100 ribu ton (lini lapis warna), maka akan mencapai 265 ribu ton produksi lini lapis metal dan 160 ribu ton lini lapis warna per tahun," tutur Crawford.

Ditambahkan oleh Direktur Pelaksana dan CEO Blue Scope Steel Ltd., Paul O'Malley, perusahaan tetap melanjutkan komitmen investasinya di Indonesia, dan pasar Indonesia yang cukup potensial ini menjadi salah satu indikator keberhasilan perusahaan di wilayah Asia. Pasar bereaksi positif terhadap hadirnya produk baja lapis ringan. Perusahaan asal Australia ini menanamkan investasi awalnya senilai AUD250 juta sejak 35 tahun lalu, saat mengembangkan pasar pembangunan dan konstruksi di Jakarta. Perusahaan ini juga menjadi satu-satunya produsen lapis seng aluminium, baik metal dan juga warna di Indonesia, yang berlokasi di Cilegon, Cibitung, Medan, dan Surabaya.
[ Mi ]

Sumber : Business News, Page : 16 

 Dilihat : 3408 kali