13 Februari 2008
Bea Masuk HRC Diselaraskan

CILEGON (SINDO) Bea masuk (BM) baja canai panas (hot rolled coils/HRC) berketebalan 2 mm sebesar 5% akan dihapuskan. Tindakan ini dilakukan untuk menyelaraskannya dengan BM HRC di bawah 2 mm yang dibebaskan pemerintan.

"Tarif seperti ini tidak harmonis. Padahal produknya sama-sama HRC. Pembebasan tarif BM tersebut setidaknya diperlukan untuk satu tahun mendatang," ujar Menteri Perindustrian (Menperin) Fahmi Idris seusai meresmikan pembangunan pabrik baja PT BlueScope Steel Indonesia dengan total investasi USD113 juta di Cilegon kemarin.

Menperin mengatakan, usulan pengenaan BM HRC berketebalan di atas 2 mm . saatini, sebesar 5%, mengakibatkan distorsi pasar. Pemberlakuan tarif BM tersebut dinilai tidak harmonis. Kesenjangan harga HRC di pasar menurut Menperin akan berdampak luas terhadap kemajuan industri bajanasional sehingga bisa menyebabkan terganggunya kinerja di industri hilir, terutama yang berbasis baja canai dingin (cold rolled coil/CRC), seperti industri seng baja (BjLS/baja lapis seng), aluminium seng hingga industri pipa baja.

Sebelumnya, PT Krakatau Steel (KS) sempat menduga pasar baja nasional sedang mengalami distorsi akibat perdagangan yang tak wajar dari produk HRC di bawah 2 mm yang mendapatkan fasilitas BM 0% dari ketetapan Peraturan Menteri Keuangan No 85/PMK.011/2007.

Menperin menjelaskan, penghapusan BM baja canai panas di atas 2 mm sebenarnya merupakan sebuah usulan yang dilematis karena di saat yang sama pendapatan pemerintah dari pajak akan berkurang. "Tapi di satu sisi situasi pasar HRC di dalam negeri selalu defisit setiap tahun," tuturnya.

Berdasarkan data Depperin, pasokan HRC pada 2007 hanya mencapai 1,8 juta ton dari total konsumsi sekitar 2,3-2,5 juta ton. Sementara itu, konsumsi baja nasional selalu tumbuh rata-rata 3-7% per tahun dari total kebutuhan 2007 sekitar 6,5 juta ton, sedangkan produksi baja nasional hanya mencapai sekitar 4,5 juta ton per tahun.

"Jika harga bahan baku di hulu sudah mahal, (industri) yang hilir pasti tidak bisa bersaing. Hal ini memang sebuah situasi yang sangat dilematis. Tapi pemerintah akan memilih kebijakan mana yang paling strategis," ujar Fahmi.

Sementara itu, Presiden BlueScope Steel Indonesia dan Malaysia Rob Crawford meminta pemerintah lebih komprehensif dalam melihat persoalan sebelum mengambil keputusan yang tepat. "Prinsipnya kami mendukung dan melaksanakan setiap kebijakan pemerintah. Setiap kebijakan itu pasti akan berdampak ke industri hilir dan berharap bisa meh'ndungi sektor tersebut," katanya kemarin.
(agung kurniawan)

Sumber : Harian Seputar Indonesia, Page : 19 

 

 Dilihat : 3393 kali