13 Februari 2008
Persaingan pasar produk baja makin ketat

CILEGON Menteri Perindustrian, Fahmi Idris mengatakan, perusahaan baja nasional terutama yang diproduksi PT Krakatau Steel ataupun PT BlueSkope Steel harus lebih efisien karena persaingan semakin ketat. Apalagi, pemerintah berencana menghapuskan bea masuk (BM) impor produk HRC (hot rolled coil/baja canai panas) dari 5 persen menjadi 0 persen.

"Alasan, penurunan BM ini karena pasar masih kekurangan barang jenis ini. Sementara suplai dari PT KS kurang. Kita juga mengimpor untuk kebutuhan industri downstream," kata Fahmi di sela Peresmian proyek ekspansi BlueScope Steel, di kawasan Industri Cilegon Banten, kemarin.
Menurut Fahmi, langkah kebijakan ini memang dile

matis, di satu sisi pemerintah ingin mengembangkan industri hilir sementara harga baja di tingkat hulu mahal dan industri lokal dihadapkan pada persaingan di pasar global.

Kendati demikian, katanya, pihaknya akan menciptakan kebijakan paling strategis agar tak memukul industri nasional. "Sepanjang PT KS bisa efisien, adanya penurunan BM, saya yakin bisa bersaing."

Dengan kebijakan ini, diharapkan, industri baja hulu dalam negeri masih tergantung dengan bahan baku impor juga bisa berkembang tanpa adanya gangguan bahan baku. Beberapa bahan baku industri sektor baja hulu yang masih dimpor diantaranya slab, billet, pellet dan lain-lain.

Selain itu Fahmi mengaku bahwa teknologi industri baja di dalam negeri sudah tertinggal dibanding dengan teknologi negara-negara lain terutama penggunaan energi yang besar.
"Industri baja dalam negeri juga masih terkendala pasokan energi terutama gas."

Untuk itu menurutnya industri baja akan didorong menjadi sektor industri yang diprioritaskan untuk tumbuh. "Bahwa industri baja merupakan industri strategis dan menjadi tulang punggung bagi pengembagan industri suatu bangsa."

Fahmi mengungkapkan, industri baja merupakan penghasil produk baja untuk memenuhi kebutuhan industri manufaktur sebagai penunjang utama pendukung sektor konstruksi dan infrastruktur.

Hingga kini kapasitas produksi industri baja dalam negeri mencapai 6,5 juta ton per tahun dengan tingkat utilisasi mencapai rata-rata 60,5%. Menurutnya selama empat tahun terakhir industri baja mengalami kenaikan pertumbuhan 3,13%. Ekspor baja dalam negeri selama empat tahun mengalami kenaikan dari US$882,6 juta pada 2004 menjadi US$1,8 miliar pada tahun 2007.

Manager Director dan CEO PT BSS, Paul O Malley mengatakan, ekspansi perusahaan ini di Indonesia memiliki kapasitas senilai US$101 juta yang dialokasikan untuk memproduksi baja lapis dengan ketebalan 02 mm0,4mm yang umumnya digunakan untuk konstruksi perumahan. "Kita berharap bisa berproduksi akhir 2009 dan mampu mengakomodasi pertumbuhan pasar konstruksi lebih efisien. Apalagi Indonesia merupakan populasi ke empat di dunia tentunya menjadi kunci keberhasilan pasar di Asia." (fit)

Sumber : Harian Terbit, Page : 2

 Dilihat : 3995 kali