13 Februari 2008
Bluescope Steel Investasi Rp i Triliun

CILEGON-Produsen baja Australia, Bluescope Steel Limited, melalui anak usahanya PT Bluescope Steel Indonesia (Bluescope) membenamkan investasi tambahan Rp 1 triliun.Investasi setara US$ 113 juta itu untuk menggandakan produksi pabriknya di Cilegon, Banten menjadi 300 ribu ton per tahun.

CEO Bluescope Steel Ltd Paul O'Malley menjelaskan, dengan investasi itu Bluescope menjadikan Indonesia salah satu basis produksi terbesar setelah Australia dan Amerika Serikat. "Ini merupakan investasi pertama kami di Asia, dan bisa dikatakan merupakan langkah bagus sekaligus meng
usung risiko tinggi di tengah krisis dan ketidaktentuan harga baja global. Tapi, kami optimistis mengingat demand di pasar Indonesia sangat tinggi dan pasti bertumbuh," paparnya usai peletakan batu pertama penambahan investasi Bluescope yang diberi nama Badak Project di Cilegon, Selasa (12/2).

Menurut dia, Bluescope memulai perluasan pabrik di Cilegon guna menambah kapasitas produksi dari 100 ribu ton menjadi 300 ribu ton produk baja lapis logam (aluminium) untuk konstruksi bangunan. Saat ini permintaan produk Bluescope di pasar domestik tidak sepenuhnya mampu dipasok pabrik di Cilegon, sehingga sekitar 35% dari permintaan domestik masih diimpor dari negara lain, seperti Vietnam dan Malaysia. "Akan lebih baik pro
duk yang dijual, diproduksi di sini karena bisa meningkatkan keuntungan," ujar O'Malley mengemukakan alasan penambahan kapasitas pabrik di Indonesia.

Sedangkan jika menggunakan produk impor untuk memenuhi kebutuhan di Indonesia, Bluescope harus mengeluarkan biaya transportasi dan lain-lain yang menekan keuntungan. Karena itu, penambahan kapasitas produksi tersebut difokuskan sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri.

Selain di Indonesia, O'Malley menerangkan, Bluescope memiliki basis produksi di Australia dan Amerika Serikat. Perusahaan baja itu juga beroperasi di Malaysia, Thailand, Vietnam, Tiongkok, dan India. Saat ini kebutuhan bahan baku perusahaan, yaitu baja lembaran dingin (CRC), dipasok dari PT Krakatau Steel (KS).

Vice President Marketing and Solution Bluescope Karina Lucia menambahkan, pada 2008 pendapatan PT Bluescope Steel Indonesia ditargetkan meningkat 50% dari tahun lalu sekitar US$ 160 juta. Bahkan, setelah perluasan pabrik selesai pada akhir 2009 dan beroperasi mulai 2010, pendapatan perusahaan tersebut di Indonesia naik dua kali lipat. Sedangkan secara grup, pendapatan Bluescope Steel Limited pada 2007 mencapai AUS$ 8,92 miliar, (e 118)

Sumber : Investor Daily Indonesia, Page : 22 

 Dilihat : 2873 kali