08 Februari 2008
KERJASAMA ANTAM-KRAKATAU STEEL Antam Investasi US$ 56 Juta di Pabrik Baja

Antam Investasi US$ 56 Juta di Pabrik Baja JAKARTA. PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kian agresif menggelar ekspansi. Selain mengincar lahan tambang, Antam juga bekerjasama dengan PT Krakatau Steel mendirikan pabrik baja di Kalimantan Selatan.

Fazwar Bujang, Direktur Utama Krakatau Steel menyatakan, kerjasama ini berupa pembentukan perusahaan patungan. Selanjutnya, perusahaan baru ini akan mendirikan pabrik baja itu. Di perusahaan itu, Krakatau Steel menguasai 65% saham dan Antam memiliki 35%.

Menurutnya, pembangunan pabrik berkapasitas 300.000 ton baja per tahun ini bakal menelan biaya hingga US$ 160 juta. Jika mengacu kepada komposisi kepemilikannya, Krakatau Steel akan menyuntik dana US$ 104 juta dan Antam US$ 56 juta.

Kurniadi Atmosasmito, Direktur Keuangan Antam mengakui, perusahaannya akan menyetor dana sesuai komposisi itu. Dana itu, kemungkinan besar, akan berasal dari kas internal. "Tapi, kami masih melihat kemampuan perusahaan," katanya di Jakarta, kemarin. Karena itu, emiten saham berkode ANTM ini juga menyiapkan opsi pinjaman bank dan obligasi.


Menurut Fazwar, Antam akan membantu Krakatau Steel dalam mengolah bijih besi yang jadi bahan baku baja. Maklum,dengan kapasitas sebesar itu, pabrik baru itu membutuhkan pasokan bijih besi antara 480.000-510.000 ton per tahun. Nah, dari jumlah itu, sekitar 60% akan berasal dari dalam negeri dan 40% sisanya diimpor.

Fazwar yakin, pabrik itu tidak akan kesulitan pasokan bijih besi. Sebab, selain yang sudah ada sekarang, Antam juga akan terus mencari kuasa pertambangan baru yang bisa memasok pabrik tersebut.

Sekali lagi, Kurniadi membenarkan bahwa perusahaannya telah sanggup mengamankan pasokan bijih besi pabrik baja itu. Caranya, Antam akan mengelola kuasa pertambangan dan menggandeng sejumlah penambang bijih besi.

Asal tahu saja, Kalimantan Selatan memiliki cadangan bijih besi sebesar 760 juta ton. Jumlah ini sudah setara dengan 70% total cadangan nasional.

Selain bijih besi, pabrik baja juga membutuhkan besi scrap sebagai campuran. Sayang, perusahaan patungan itu masih harus mengimpor sekitar 70% dari total kebutuhan bahan baku yang satu ini.Kedua perusahaan pelat merah itu akan mulai mereguk hasil usahanya di awal 2010. Sebab, pabrik Itu baru rampung 2009.
Ewo Raswa, Andri Setyawan

Sumber : Harian Kontan, Page : 4

 

 Dilihat : 3329 kali