08 Februari 2008
Tiga Belas BUMN Akan Diprivatisasi Lewat IPO

NERACA Jakarta-Setelah tiga perusahaan negara, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBNI), PT Jasa Marga TBk (JMRG), dan PT Wijaya Karya Tbk (WI-KA), diprivatisasi lewat mekanisme initial public offering (IPO), tahun depan giliran 13 BUMN lagi segera menyusul. Beberapa di antaranya adalah PT Krakatau Steel, PT Semen Baturaja, PT Sucofindo dan PT Waskita Kama.

Hal tersebut dikemukakan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Sofyan A. Djalil dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (5/2/).

Selain lewat IPO, sejumlah BUMN juga diprivatisasi lewat mekanisme penjualan langsung ke swasta atau mekanisme strategic patner. Total jendral, ada 34 BUMN yang akan diprivatisasi. Kesemuanya telah direstui Komite Privatisasi dan sudah diajukan ke DPR.

"Di samping itu ada 10 BUMN yang merupakan carry over atau limpahan program privatisasi tahun 2007 yang akan diajukan lagi di 2008, antara lain Garuda Indonesia, Merpati Nusantara dan Industri Gelas," ungkap Sofyan Djalil Keputusan Komite Privatisasi itu tertuang dalam surat keputusan Nomor KEP-04/.EKON/01/2008 tanggal 31 Januari 2008 tentang arahan atas program tahunan privatisasi perseroan tahun 2008. Isinya mengenai hasil kajian BUMN yang akan diprivatisasi pada tahun 2008.

Momentum IPO Boleh jadi, tahun ini memang merupakan momentum bagi BUMN untuk melakukan IPO alias penawaran saham perdana. Mengapa? Menurut pengamatan analis pasar modal, Edwin Sinaga, saat ini investor sedang kelebihan likuiditas. Menyusul selisih yang lumayan jauh antara BI rate dan suku bunga The Fed (bank federal AS), membuat investasi di tanah air, khususnya bursa saham menjadi lebih menarik.

Apalagi sejumlah indikator menunjukkan pasar saham di Indonesia masih sangat menarik. Misalnya, pendapat Deutsche Bank yang memperkirakan Bursa Indonesia, bersama China dan India, memiliki peluang terbesar sebagai tempat investasi terbaik di masa depan. "Pasar saham di negara-negara asia masih akan berkembang. Yang memiliki potensi terbesar adalah China, India, dan juga Indonesia," ujar Chief Investment Officer Asia Private Wealth Management Deutsche Bank Soon-Gek Chew.

Lebih lanjut, Soon-Gek menuturkan, Indonesia yang tahun lalu pertumbuhan bursa sahamnya mencapai 54,1 persen dinilai masih cukup menjanjikan. Karena pertumbuhan bursa Indonesia hanya kalah dari China dan India. "Pertumbuhan bursa-bursa Asia lainnya, tanpa Jepang adalah 40,6 persen. Justru bursa Jepang turun 4,1 persen," ulasnya.

Di sisi lain, dengan terjadinya perlambatan ekonomi di negara-negara maju, investasi di bursa saham Eropa tidak akan menarik, Contohnya adalah bursa saham Eropa tahun lalu rata-ratanya tumbuh 14,4 persen.

Ramalan senada juga dikemukan oleh ekonom Citibank, Anton H Gunawan. Malah ia memperkirakan pasar saham di tanah air masih mungkin meningkat meski tahun 2007 telah tumbuh sekitar 50 persen pada tahun 2007. Bahkan pasar saham di Indonesia dianggap lebih menjanjikan ketimbang pasar saham di China yang tercatat mengalami pertumbuhan paling tinggi tahun lalu, yakni' sekitar 167 persen.

Pendapat ini masuk akal. Terlebih jika disimak uraian Direktur Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Made Sukada, beberapa waktu lalu, arus modal asing kini banyak beralih ke pasar modal dan obligasi pemerintah (Surat Utang Negara/SUN). Ini karena investasi di pasar uang cenderung menurun, menyusul tren penurunan BI Rate.

Oversubscribe Jika demikian, nampaknya sekarang adalah saat yang paling pas bagi perusahaan untuk IPO. Investor sedang kelebihan likuiditas, sementara pasar uang tengah ambruk. Jadi, pada harga berapa pun saham ditawarkan, ada kemungkinan investor tetap menyambarnya.

Hal ini terbukti pada saham perdana Jasa Marga, lalu.' Meski dinilai kelewat mahal, ternyata tetap diborong oleh investor. Menurut Dirut Jasa Marga Frans Sunito, penawaran saham Jasa Marga yang berlangsung 5-7 November tahun lalu ini, oversubscribe 8 kali. Dengan kata lain, peminat saham Jasa Marga ternyata tidak berkurang sama sekali.

Hal yang sama juga dialami ketika Wijaya Karya (WIKA) melakukan penawaran saham perdana WIKA (22-24 Oktober 2007). Harga saham WIKA ditawarkan pada Rp 420 per saham dengan nilai nominal RplOO itu dianggap kelewat mahal. Tetapi, kenyataan dilapangan berbicara lain. Justru saham yang "mahal" ini mengalami kelebihan permintaan atau oversubscribe hingga 44,8 kali.

Kemudian, jika melihat data tahun lalu, saham-saham perusahaan yang baru saja masuk bursa saham sepanjang paruh 2007 ini mayoritas harganya meroket tajam dibanding harga penawaran perdananya. Dari 12 emiten baru yang masuk bursa, sembilan saham emiten baru meroket tajam dan hanya tiga saham baru lainnya malah melorot tipis dibanding harga perdana.

Tahun lalu, investor yang mengeruk untung paling besar adalah mereka yang memborong saham PT BISI Internasional Tbk (BISI). Pemilik saham BISI saat ini bisa dibilang kaya mendadak karena lonjakan saham BISI yang tercatat paling fantastis. Pada saat pelepasan perdana, perlembar saham BISI ditawarkan dengan harga Rp 200 sempat melonjak mencapai 520 persen.

Tentu saja, pemerintah pasti tahu kondisi ini. Momen seperti saat ini boleh jadi akan datang dalam kurun waktu 10 tahun sekali. Ini adalah kesempatan emas. Jadi, tak salah jika diucapkan: Ayo BUMN, ini waktunya untuk IPO!

Sumber : Harian Ekonomi Neraca, Page : 2 

 

 Dilihat : 2795 kali